Perjalanan pulang ku dari blok m hari ini cukup berkesan
walaupun kopajanya penuh sesak dan asap mengepul diudara
tapi karena ditemani dua musisi jalan yang cukup menghibur
tak pa lah
mereka dua musisi jalanan yang tak hanya mencari sepeser duit untuk makan
tetapi juga berusaha menjadi penghibur yang baik
musisi jalanan dengan dua karakter yang berbeda
suara melankolis yang merdu dengan petikan gitar yang baik
mengiringi lagu - lagu kerispatih di atas kopaja 75
gaya rapper
itulah yang kutangkap saat musisi kedua melangkahkan kakinya keatas kopaja 75
membawakan lagu2 yang menggugah semangat ku yang hampir empty di tubuh ku sore itu
serasa di-charge kembali hingga full
"bangkitlah hai kawan, sambutlah masa depan , bangkitlah dengan senyuman..."
sepenggal lirik yang kusuka dari lagunya
mereka musisi jalanan yang berusaha memberikan penghiburan
tak hanya mengharapkan imbalan
tapi memberika sebuah tontonan yang menarik
walaupun hanya di panggung kopaja
salut... !
Catatan Harian GM
untaian kata seorang calon desainer muda...
Selasa, Januari 04, 2011
Jumat, Desember 31, 2010
Aq dan Laptop q
malam ne malam taon baru
malam taon baru pertama di jakarta
taon baru bareng laptop q
acer extensa yang udah keinfeksi virus tadi sore ( thx buat imam yang udah nyelamatinnya )
perlu gak ya ganti ne laptop ??
tapi ....
terlalu banyak kenangan q bersamanya
mulai dari berjuang bersama dalam berbagai lomba
sampe nyimpan folder ********** yang penting buat q
hah tapi aq perlu laptop yang nantinya akan mendukung q dalam berkarya
berhasio gak ya rayuan q ke mama ??
kita liat nanti
hehehe
malam taon baru
yang laen pada punya acara masing2
nah kami
4 jombloan bermalam taon baru di tempat internet
tak punya pasangan unuk diajak bersenang2
tapi ini pun kami juga udah senang
ardhi, imam, azam
biasalah anak TI
gak malam libur
gak malam kuliah
kerjaannya laptop mulu ( yaiyalah masa kerjaan nya nirmana )
semoga malam pergantian tahun ne menjadi bermakna
thx 2010
ini tahun yang luar biasa
banyak hal2 super yang kulakukan
semoga 2011 menjadi tahun yang lebih baik lagi
AMIN..
malam taon baru pertama di jakarta
taon baru bareng laptop q
acer extensa yang udah keinfeksi virus tadi sore ( thx buat imam yang udah nyelamatinnya )
perlu gak ya ganti ne laptop ??
tapi ....
terlalu banyak kenangan q bersamanya
mulai dari berjuang bersama dalam berbagai lomba
sampe nyimpan folder ********** yang penting buat q
hah tapi aq perlu laptop yang nantinya akan mendukung q dalam berkarya
berhasio gak ya rayuan q ke mama ??
kita liat nanti
hehehe
malam taon baru
yang laen pada punya acara masing2
nah kami
4 jombloan bermalam taon baru di tempat internet
tak punya pasangan unuk diajak bersenang2
tapi ini pun kami juga udah senang
ardhi, imam, azam
biasalah anak TI
gak malam libur
gak malam kuliah
kerjaannya laptop mulu ( yaiyalah masa kerjaan nya nirmana )
semoga malam pergantian tahun ne menjadi bermakna
thx 2010
ini tahun yang luar biasa
banyak hal2 super yang kulakukan
semoga 2011 menjadi tahun yang lebih baik lagi
AMIN..
Sabtu, Desember 25, 2010
aq dan lensa q
aku mulai menjajaki hobi ku sebagai fotografer
walaupun itu belum bisa menghasilkan apa2 bagi ku
tapi yang kudapatkan adalah rasa senang dan bangga
aku harus lebih sering membawa senjata ku kemana pun aq pergi
untuk menangkap setiap momen yang unik dan penting yang ada disekitar ku
walaupun senjata q hanya Canon 1000D dengan lensa kit standar
tapi itu sudah membuat q serasa menjadi seorang fotografer beneran
setiap ada waktu kosong akan aq sempat kan untuk hunting
baik itu dengan model ( yang pasti temen2 aq semua yang tanpa bayaran ) ataupun motret HI dan makro
ku harap lensa q akan selalu menemani q untuk tetap men-capture gambar2 luar biasa
hingga habis masa tugasnya
walaupun itu belum bisa menghasilkan apa2 bagi ku
tapi yang kudapatkan adalah rasa senang dan bangga
aku harus lebih sering membawa senjata ku kemana pun aq pergi
untuk menangkap setiap momen yang unik dan penting yang ada disekitar ku
walaupun senjata q hanya Canon 1000D dengan lensa kit standar
tapi itu sudah membuat q serasa menjadi seorang fotografer beneran
setiap ada waktu kosong akan aq sempat kan untuk hunting
baik itu dengan model ( yang pasti temen2 aq semua yang tanpa bayaran ) ataupun motret HI dan makro
ku harap lensa q akan selalu menemani q untuk tetap men-capture gambar2 luar biasa
hingga habis masa tugasnya
Minggu, Desember 12, 2010
Hari yang penuh kolase
Kubuka kedua mataku pagi ini
dan berharap hari ini menjadi hari terbaikku
kugunting setiap waktu yang kulalui hari ini
memilah - milahnya sesuai dengan warna kehidupan
kerekatkan setiap potongan kertas waktu itu
menjadi sebuah kolase yang tersusun rapih
menutupi seluruh dunia putih ku hari ini
kurubah sehelai dunia putih ku
menjadi dunia lain yang penuh makna
gradasi warna kelam yang suram penuh duka
menuju warna terang nan lembut penuh keceriaan
tak pernah kubuang setiap sisa potongan kolase
karena ia telah menjadi saksi pelengkap ketika kurangkaikan hidup ini
akankah kolase ku tetap bertahan?
sampai akhirnya ia tertiup angin, berserakan, tak beraturan ?
entah lah...
dan berharap hari ini menjadi hari terbaikku
kugunting setiap waktu yang kulalui hari ini
memilah - milahnya sesuai dengan warna kehidupan
kerekatkan setiap potongan kertas waktu itu
menjadi sebuah kolase yang tersusun rapih
menutupi seluruh dunia putih ku hari ini
kurubah sehelai dunia putih ku
menjadi dunia lain yang penuh makna
gradasi warna kelam yang suram penuh duka
menuju warna terang nan lembut penuh keceriaan
tak pernah kubuang setiap sisa potongan kolase
karena ia telah menjadi saksi pelengkap ketika kurangkaikan hidup ini
akankah kolase ku tetap bertahan?
sampai akhirnya ia tertiup angin, berserakan, tak beraturan ?
entah lah...
Jumat, Desember 10, 2010
Dewi Fortuna barusan lewat
Hari ini
bangun dengan kepala yang berdenyut ( efek migrem semalam ne )
memutuskan untuk masuk kelas kebudayaan dan seni rupa dengan berat hati
masih kerasa denyutan di kepala
tapi tetap melahap quiz yang langsung diberikan pas masuk kelas
arrrggghhhhh....
eh dewi fortuna lewat
dosennya bilang kelas kedua hari ini cuma ngisi absen ama ngumpulin tugas doang
Sherina ??? yang boneng ???
Tsamrotul ?? yang Bimo ??
wajah anak2 pada berseri2 semua kayak baru dapat nila A di semua mata kuliah
heheheheh
mantap ni dosen
migren langsung kabur dari kepala..
bangun dengan kepala yang berdenyut ( efek migrem semalam ne )
memutuskan untuk masuk kelas kebudayaan dan seni rupa dengan berat hati
masih kerasa denyutan di kepala
tapi tetap melahap quiz yang langsung diberikan pas masuk kelas
arrrggghhhhh....
eh dewi fortuna lewat
dosennya bilang kelas kedua hari ini cuma ngisi absen ama ngumpulin tugas doang
Sherina ??? yang boneng ???
Tsamrotul ?? yang Bimo ??
wajah anak2 pada berseri2 semua kayak baru dapat nila A di semua mata kuliah
heheheheh
mantap ni dosen
migren langsung kabur dari kepala..
Kamis, Desember 09, 2010
Serasa Jadi Model Sehari...
Akhirnya selesai juga pemotretan majalah PF 2010
Tapi gak tau juga, tu foto2 bakalan di terima ama kampus
I'M IN THE FUTURE menjadi tema foto kali ini
Semua anak mempersiapkan konsep foto mereka dengan matang
Ingin jadi apa sih mereka di masa depan
ada yang jadi exekutif muda ( Si Andri yang katanya fotonya itu paling keren ), ada yang jadi desainer ( Si Dety ama Ayum yang foto di distro kak Hekso ), ada yang jadi sekeretaris ( Si Jupe yang bajunya paling seksi ), ada yang jadi Motivator ( Si Ipul yang langsung grogi pas di foto ), dan giliran aq yang jadi fotografer ( walaupun lensanya minjem punya kak Sam ), mudah2an hasilnya bagus ( kak Idoy jangan lupa edit muka aq ya ka, coznya banyak jerawatnya tu )
sebelum pemotretan latihan dulu .....
ternyata aq keren juga ( hehehehe )
tapi, sory ya temen2 foto2 yang di kamera aq gak bisa di share dulu
tunggu penerbitan majalah PF 2010 dulu
Moga2 hasilnya bagus
and semua cita2 kita terwujud
AMIN...
Senin, Agustus 31, 2009
PENDIDIKAN DAN EKONOMI ACEH PASCA 3 TAHUN TSUNAMI
“ Juara III Lomba Penulisan Artikel dalam Rangka 3 Tahun Tsunami Se NAD Tahun 2007 “
Oleh GEMA WAHYUDI
Menyelamatkan Pendidikan Anak – Anak Aceh
KESEDIHAN menyelimuti bangsa Indonesia saat Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara (Nias) diterjang gempa dan tsunami yang menelan ratusan ribu jiwa. Di antara korban meninggal, hilang, atau terselamatkan, 35 persennya adalah anak- anak.
Anak-anak memerlukan perhatian khusus karena mereka belum bisa menyelamatkan diri sendiri dan memerlukan uluran tangan orang dewasa. Anak-anak tidak hanya memerlukan pangan, sandang, dan papan, tetapi juga pendidikan. Ironisnya, kebutuhan pendidikan justru sering terabaikan dan baru terpikirkan setelah kebutuhan lainnya terpenuhi.
Pendidikan konseling
Ada berbagai tipe anak pascagempa, yaitu menjadi yatim piatu karena kedua orangtuanya meninggal, yatim saja karena hanya salah satu orangtuanya hilang. Dan, ada yang masih hidup bersama kedua orangtua mereka, tetapi karena gempa memorakporandakan harta, mereka hidup dalam kesengsaraan dan masa depan yang tidak jelas. Karena ada berbagai tipe anak, maka diperlukan pendekatan beragam.
Pertama, mereka yang menjadi yatim piatu dan usianya masih balita memerlukan perlindungan fisik dari orang yang sudah dewasa agar dapat jasmani dan rohani tumbuh sehat. Secara fisik, mereka terselamatkan dari bencana, tetapi belum tahu apa yang terjadi pada dirinya. Mereka terpisah dari orangtuanya, tetapi belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Anak-anak usia balita memerlukan pendekatan khusus yang dapat dilakukan orangtua berpengalaman, bukan relawan yang masih belia. Kesediaan suami-istri mengangkat mereka sebagai anak akan memberi rasa aman dan nyaman yang lebih abadi dibandingkan dengan menitipkan mereka ke panti asuhan.
Kebutuhan pangan dan sandang di panti asuhan mungkin tercukupi, tetapi secara psikologis, mereka rentan. Suatu saat akan muncul dendam pada diri sendiri setelah mengetahui sejarah hidupnya. Masalahnya, tidak mudah mencari orangtua asuh yang tulus. Hal itu terbukti dengan masih adanya orang yang tega hidup di atas penderitaan sesama dengan memperjualbelikan anak-anak yang terpisah dari orangtua.
Pada beberapa anak, cara pendekatannya berbeda, yaitu melalui pendidikan konseling. Bukan oleh seorang konselor ahli dan kaum profesional, tetapi guru dan sanak kerabat yang sudah dewasa. Karena, tanpa disadari, dalam kehidupan keseharian, mereka telah menjalankan konseling di lingkungan kehidupan Aceh yang religius dan menekankan kepasrahan kepada Allah.
Konseling semacam ini penting karena dalam situasi bergelimang derita tidak ada jalan lain kecuali pendidikan yang membawa kesadaran orang untuk hidup melulu menyandarkan diri pada kasih dan penyelenggaraan ilahi. Pendidikan semacam itu dapat dilakukan oleh siapa saja. Pendidikan konseling dapat meneguhkan semangat hidup anak-anak yang terlepas dari orangtuanya, bahwa kebahagiaan senantiasa hadir dalam penderitaan riil keseharian masyarakat. Aceh tetaplah taman firdaus ( Darussalam ), meski bumi Aceh kini sedang memanggul beban penderitaan teramat berat. Tragedi ini diharapkan dapat menjadi pelajaran bersama dan mengintropeksi diri. Termasuk GAM dan TNI bahwa tidak ada gunanya terus berperang dengan senjata karena akhirnya mereka tidak mampu menyelamatkan dirinya dari gempa dan tsunami. Bagi mereka yang kedua orangtuanya masih selamat, tetapi harta bendanya hancur atau hilang, pendidikan justru perlu difokuskan kepada orangtuanya agar mereka memiliki ketabahan sekaligus kesabaran dalam mendidik anak-anaknya
Menghindari formalisasi
Mengingat kebutuhan mendesak adalah pendidikan yang mampu memberi semangat dan pengharapan anak – anak korban tsunami untuk tetap hidup dalam keadaan yang sedemikian, agaknya kurikulum pendidikan dan proses pengajaran yang formalitas boleh diabaikan . Segala bentuk formalitas , termasuk kurikulum, buku pelajaran, standarisasi dan kualifikasi yang dipersyaratkan dalam pengajaran hendaknya diabaikan dulu. Yang diperlukan lebih dulu adalah rehabilitasi psikologi karena jungkir balik diguncang bencana. Anak – anak Aceh kini memerlukan pendidikan yang mampu memberi semangat dan harapan untuk hidup dialam nyata.
Solidaritas kemanusiaan universal sebagai wujud kepedulian untuk Aceh yang datang dari berbagai penjuru dunia. Semangat ini dapat dilihat sendiri oleh anak-anak Aceh saat mereka menyambut uluran tangan tanpa pamrih dari siapa pun yang berbela rasa kepada mereka. Bukankah ini media pengajaran yang luar biasa dahsyat dalam rangka menyalakan semangat hidup di tengah samudra keterpurukan? Ibaratnya adalah menyalakan secercah cahaya di lorong kegelapan bagi anak- anak di Aceh.
Konseling berbasis penderitaan ini bukan kegiatan untuk meninabobokan anak-anak Aceh, tetapi mengajarkan kepadanya bahwa hidup mesti realistis. Tak perlu tergesa membangun gedung sekolah dan mencetak buku-buku baru-yang rawan korupsi-khusus untuk anak-anak Aceh karena pendidikan mereka dapat diselamatkan dengan menggunakan rumah-rumah penduduk yang masih utuh, sedangkan buku bisa digantikan dengan kekayaan alam dan budaya Aceh.
Tsunami telah menghancurkan pendidikan di Aceh. Bencana tersebut telah menghancurkan dan membunuh ratusan guru dan murid. Sebelum tsunami terjadi konflik di Aceh. Ratusan sekolah terbakar, tetapi sekarang dengan kedamaian dan dan investor luar negeri, anak – anak Aceh mempunyai kesempatan kembali untuk belajar.
Banyak orang mengatakan bahwa pembangunan pendidikan di Aceh membutuhkan dana yang besar. Tetapi sejak 4 tahun yang lalu, Aceh memiliki dana milyaran rupiah untuk membangun pandidikannya. Disamping itu mereka juga melihat bahwa hanya uang yang kita perlukan untuk membangun pendidikan di Aceh. Malaysiaa bisa menjadi contoh bagi Aceh untuk membangun pendidikan. Masyarakat di Malaysia mengatakan bahwa dulu Malaysia harus belajar dari Indonesia tetapi sekarang Indonesia harus belajar dari Malaysia.
Kadang – kadang kita masih berpikir bahwa dengan uang semua masalah akan selesai tetapi tidak akan membuat pendidikan sukses. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan agar pendidikan kita lebih baik. Yang pertama, departemen pendidikan harus tahu apa prioritas untuk Aceh. Yang kedua, pemerintah local adalah orang – orang yang tahu bagaimana membangun pendidikan di Aceh, bukan orang yang selalu korupsi dengan dana.
Yang mereka perlukan sekarang adalah guru yang memiliki kearifan untuk mendidik mereka agar kembali merasa hidup sebagai manusia yang utuh. Mungkin mereka akan ketinggalan dalam pelajaran konvensional, tetapi akan unggul dalam pendidikan psikologi.
Tak ada lagi perang di Aceh. Semuanya telah berakhir damai, sejak MoU Helsiki disepakati, 15 Agustus 2005 lalu. Kini Aceh sedang membangun rumahnya, masyarakatnya, ekonominya, sosial budayanya, jalan-jalannya, akses informasinya, syariatnya dan sederet lainnya yang berarti membuka diri untuk menantang arus globalisasi. Soal membuka diri, sudah saatnya Aceh melakukan itu. Saat konflik masih mendera, Aceh memang luka, pintu ke Aceh ditutup rapat oleh penguasa. Perang menjadi alasan bagi dunia untuk enggan masuk memberikan kontribusinya. Padalah, siapa yang tak mendambakan sebuah kemajuan.
Setelah damai ada, mungkinkah Aceh seperti Singapura, Malaysia atau Cina yang sudah lebih maju dari Indonesia? kita tak perlu lagi berdiam diri, keluarlah untuk melihat dunia dan undanglah tamu untuk membawa dunia ke Aceh. ‘Keluar dari Ghetto’, itulah salah satu poin yang dirilis Aguswandi lewat bukunya. Ghetto adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan suatu area terpisah dimana seseorang atau sekelompok orang mengurung atau dikurung, sehingga terpisah dari kelompoknya. Banyak pengetahuan dan ide – ide baru untuk sebuah tujuan yang diinginkan yaitu Aceh yang maju. Tinggal menghitung hari melihat Aceh yang benar benar baru. Setelah tak ada lagi perang di Bumi Serambi.
Ekonomi Aceh Pasca 3 Tahun Tsunami
Proses rehabilitasi dan rekonstruksi terus berjalan. Perlahan-lahan Aceh mulai bangkit kembali. Namun, proses tersebut masih dirasakan sangat lambat. Ditengah cash in flow yang begitu besar mencapai US$5,8 milyar, pembangunan Aceh masih menghasilkan realisasi fisik yang minim. Membangun sesuatu yang fisik saja masih lambat apalagi untuk human developmentnya. Hasil survey dari World Bank dan Bappenas menyebutkan bahwa tingkat kerusakan yang dialami dalam sektor perekonomian adalah mencapai US $ 1,2 milyar. Hal ini akibat rusaknya sektor yang produktif, kegiatan ekonomi yang menurun sebanyak 5%, bertambahnya 325.000 penduduk miskin, dan 100.000 pengusaha kecil kehilangan usahanya.
Setahun Tsunami
Tak ada yang bisa menduga, termasuk korban tsunami bahwa mereka kini pupus segalanya: keluarga, harta, dan pekerjaan. Dan bahkan jika tidak diselamatkan, mereka juga akan kehilangan sesuatu yang masih tersisa, yaitu masa depannya.Tiga bulan pertama merupakan masa kritis dalam menyelamatkan kehidupan jangka pendek korban namun telah terlalui dengan berbagai suka duka. . Bagaimanapun, kepada berbagai pihak yang telah sigap membantu korban tsunami patut diberikan apresiasi.
Untuk mengembalikan Aceh kembali, diperkirakan mencapai US$ 5,8 milyar dan pada tahun 2005 dengan dana sebesar US$ 4,4 milyar telah dialokasikan untuk proyek-proyek khusus dengan rincian pemerintah (termasuk anggran 2006) sebesar US$ 1,1 milyar, LSM US$ 1,5 milyar, dan donor US$ 1,8 milyar.
Setahun tsunami, tidak dipungkiri bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh kembali sudah mulai berjalan. Hasil laporan setahun BRR menyebutkan berbagai keberhasilan telah dilakukan dalam rehab dan rekons Aceh, diantaranya; pembangunan fisik yang berupa jalan, jembatan, kegiatan ekonomi berskala kecil, pembangunan sarana dan prasarana, dll. Namun, Daya serap untuk tahun 2005 hanya sebesar 17,61% (US$ 775 juta dari US$ 4,4, milyar). Realisasi daya serap yang sangat minim ini membuktikan bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca setahun tsunami masih sangat minim dan lambat.
Jika kita melihat kondisi riil di lapangan, masih begitu banyak pengungsi yang tinggal di tenda pada akhir tahun 2005 yang lalu, masyarakat yang sulit mencari mata pencaharian, sulitnya mendapatkan akses modal usaha, pelaksanaan pelatihan usaha yang tidak tepat sasaran, dan sebagainya. . Kondisi ini sangat memprihatinkan dan masih sedikit sekali memberikan perkembangan rehab dan rekons Aceh.
Dua Tahun Dan Tiga Tahun Tsunami
Dimana kita setelah 2 tahun tsunami? Itu mungkin yang akan menjadi pertanyaan didalam diri kita masing-masing. Dari hasil berbagai diskusi, pengamatan dan opini pakar, upaya perbaikan ekonomi masyarakat dirasakan masih belum optimal. Indikasi ini dilihat dari masih tingginya angka kemiskinan (43,67%) atau 1.760.764 jiwa, pengangguran terbuka (46,88%) atau 1.255.388 jiwa. Langkah-langkah perbaikan ekonomi yang strategis, sistematis dan sinergis pun masih belum kelihatan. Hal ini juga dibuktikan dengan minimnya daya serap anggaran per November 2006 yang hanya sebesar 26,84%.
Dana rehab dan rekons Aceh pada tahun 2006 mulai bertambah menjadi US$ 5,8 milyar, yang terdiri dari pemerintah (US$ 2 milyar), LSM (US$ 1,6 milyar), dan Donor (US$ 2,2 milyar). Jika kita membandingkan dana yang dibutuhkan dengan dana yang tersedia maka kebutuhan dana sudah terpenuhi. Sehingga tidak ada lagi alasan bagi BRR untuk tidak mempercepat proses rekonstruksi Aceh. Terlebih lagi ada dana komitmen dari donor, NGO dan pemerintah sebesar US$ 1,9 milyar untuk membuat Aceh kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya dan ini menjadi moment yang paling berharga jika bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Dana begitu melimpah diberikan untuk Aceh, sekarang tinggal bagaimana mengatur dana tersebut. Apabila BRR dan Pemerintah mempunyai program dengan skala prioritas dan bisa menuntaskan pelaksanaan secara final per sektor per program maka bisa dipastikan bahwa proses rekonstruksi dan pembangunan Aceh bisa berjalan dengan cepat. Semua tergantung dari niat dan nawaytu yang ada. Selama ini, kesan BRR sebagai lembaga yang bergerak di semua bidang begitu kentara. Tidak mempunyai skala prioritas, itu yang tergambar dari implementasi program selama ini.
Dalam hirarkhi kebutuhan Maslow, seharusnya kebutuhan dasar harus dipenuhi terlebih dahulu. Dalam situasi pasca tsunami 26 Desember 2004, yang mejadi kebutuhan dasar masyarakat adalah perumahan dan ekonominya. Bagaimana pertumbuhan ekonomi Aceh bisa meningkat jika sektor produksi melalui sektor riel minim? Bagaimana sektor riel bisa berjalan apabila akses modal sangat kurang, terlebih lagi dana yang mengendap di bank mencapai Rp. 5,1 milyar? Dan bagaimana masyarakat bisa mengakses modal usaha apabila rumah belum ada? Dan mengapa sampai dengan tahun ini BRR hanya mampu menyelesaikan 40.085 rumah dari target 78.000 rumah di tahun 2006? Belum lagi jika kita melihat rumah yang dibangun asal jadi, dinding retak, miring, atap bocor, tidak ada fasilitas MCK, kuda-kuda yang rapuh, dsb.
Mengapa BRR dan pemerintah belum lagi bisa belajar dari dari dua tahun yang lalu ? Sudah tiga tahun tsunami berlalu tapi masih banyak masyarakat yang belum mempunyai mata pencaharian sehingga sangat wajar bila angka kemiskinan di daerah ini meningkat dari 27% pada tahun 2004 menjadi 43,67% pada tahun 2005 ditengah uang yang begitu besar mengalir di Aceh sebesar Rp. 7,1 Trilyun? Parahnya lagi, Rp. 1,7 trilyun ditanggung oleh rumah tangga akibat inflasi yang sangat tinggi. Kita berharap Aceh bisa menjadi lebih baik, namun bagaimana bisa menjadikan Aceh lebih baik jika pemerintah dan BRR belum menunjukkan niat seperti itu? Semoga di tahun 2007 ini, niat baik para pengambil kebijakan bisa terlaksana dan proses pembangunan Aceh kembali bisa lebih cepat. Semoga...
Oleh GEMA WAHYUDI
Menyelamatkan Pendidikan Anak – Anak Aceh
KESEDIHAN menyelimuti bangsa Indonesia saat Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara (Nias) diterjang gempa dan tsunami yang menelan ratusan ribu jiwa. Di antara korban meninggal, hilang, atau terselamatkan, 35 persennya adalah anak- anak.
Anak-anak memerlukan perhatian khusus karena mereka belum bisa menyelamatkan diri sendiri dan memerlukan uluran tangan orang dewasa. Anak-anak tidak hanya memerlukan pangan, sandang, dan papan, tetapi juga pendidikan. Ironisnya, kebutuhan pendidikan justru sering terabaikan dan baru terpikirkan setelah kebutuhan lainnya terpenuhi.
Pendidikan konseling
Ada berbagai tipe anak pascagempa, yaitu menjadi yatim piatu karena kedua orangtuanya meninggal, yatim saja karena hanya salah satu orangtuanya hilang. Dan, ada yang masih hidup bersama kedua orangtua mereka, tetapi karena gempa memorakporandakan harta, mereka hidup dalam kesengsaraan dan masa depan yang tidak jelas. Karena ada berbagai tipe anak, maka diperlukan pendekatan beragam.
Pertama, mereka yang menjadi yatim piatu dan usianya masih balita memerlukan perlindungan fisik dari orang yang sudah dewasa agar dapat jasmani dan rohani tumbuh sehat. Secara fisik, mereka terselamatkan dari bencana, tetapi belum tahu apa yang terjadi pada dirinya. Mereka terpisah dari orangtuanya, tetapi belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Anak-anak usia balita memerlukan pendekatan khusus yang dapat dilakukan orangtua berpengalaman, bukan relawan yang masih belia. Kesediaan suami-istri mengangkat mereka sebagai anak akan memberi rasa aman dan nyaman yang lebih abadi dibandingkan dengan menitipkan mereka ke panti asuhan.
Kebutuhan pangan dan sandang di panti asuhan mungkin tercukupi, tetapi secara psikologis, mereka rentan. Suatu saat akan muncul dendam pada diri sendiri setelah mengetahui sejarah hidupnya. Masalahnya, tidak mudah mencari orangtua asuh yang tulus. Hal itu terbukti dengan masih adanya orang yang tega hidup di atas penderitaan sesama dengan memperjualbelikan anak-anak yang terpisah dari orangtua.
Pada beberapa anak, cara pendekatannya berbeda, yaitu melalui pendidikan konseling. Bukan oleh seorang konselor ahli dan kaum profesional, tetapi guru dan sanak kerabat yang sudah dewasa. Karena, tanpa disadari, dalam kehidupan keseharian, mereka telah menjalankan konseling di lingkungan kehidupan Aceh yang religius dan menekankan kepasrahan kepada Allah.
Konseling semacam ini penting karena dalam situasi bergelimang derita tidak ada jalan lain kecuali pendidikan yang membawa kesadaran orang untuk hidup melulu menyandarkan diri pada kasih dan penyelenggaraan ilahi. Pendidikan semacam itu dapat dilakukan oleh siapa saja. Pendidikan konseling dapat meneguhkan semangat hidup anak-anak yang terlepas dari orangtuanya, bahwa kebahagiaan senantiasa hadir dalam penderitaan riil keseharian masyarakat. Aceh tetaplah taman firdaus ( Darussalam ), meski bumi Aceh kini sedang memanggul beban penderitaan teramat berat. Tragedi ini diharapkan dapat menjadi pelajaran bersama dan mengintropeksi diri. Termasuk GAM dan TNI bahwa tidak ada gunanya terus berperang dengan senjata karena akhirnya mereka tidak mampu menyelamatkan dirinya dari gempa dan tsunami. Bagi mereka yang kedua orangtuanya masih selamat, tetapi harta bendanya hancur atau hilang, pendidikan justru perlu difokuskan kepada orangtuanya agar mereka memiliki ketabahan sekaligus kesabaran dalam mendidik anak-anaknya
Menghindari formalisasi
Mengingat kebutuhan mendesak adalah pendidikan yang mampu memberi semangat dan pengharapan anak – anak korban tsunami untuk tetap hidup dalam keadaan yang sedemikian, agaknya kurikulum pendidikan dan proses pengajaran yang formalitas boleh diabaikan . Segala bentuk formalitas , termasuk kurikulum, buku pelajaran, standarisasi dan kualifikasi yang dipersyaratkan dalam pengajaran hendaknya diabaikan dulu. Yang diperlukan lebih dulu adalah rehabilitasi psikologi karena jungkir balik diguncang bencana. Anak – anak Aceh kini memerlukan pendidikan yang mampu memberi semangat dan harapan untuk hidup dialam nyata.
Solidaritas kemanusiaan universal sebagai wujud kepedulian untuk Aceh yang datang dari berbagai penjuru dunia. Semangat ini dapat dilihat sendiri oleh anak-anak Aceh saat mereka menyambut uluran tangan tanpa pamrih dari siapa pun yang berbela rasa kepada mereka. Bukankah ini media pengajaran yang luar biasa dahsyat dalam rangka menyalakan semangat hidup di tengah samudra keterpurukan? Ibaratnya adalah menyalakan secercah cahaya di lorong kegelapan bagi anak- anak di Aceh.
Konseling berbasis penderitaan ini bukan kegiatan untuk meninabobokan anak-anak Aceh, tetapi mengajarkan kepadanya bahwa hidup mesti realistis. Tak perlu tergesa membangun gedung sekolah dan mencetak buku-buku baru-yang rawan korupsi-khusus untuk anak-anak Aceh karena pendidikan mereka dapat diselamatkan dengan menggunakan rumah-rumah penduduk yang masih utuh, sedangkan buku bisa digantikan dengan kekayaan alam dan budaya Aceh.
Tsunami telah menghancurkan pendidikan di Aceh. Bencana tersebut telah menghancurkan dan membunuh ratusan guru dan murid. Sebelum tsunami terjadi konflik di Aceh. Ratusan sekolah terbakar, tetapi sekarang dengan kedamaian dan dan investor luar negeri, anak – anak Aceh mempunyai kesempatan kembali untuk belajar.
Banyak orang mengatakan bahwa pembangunan pendidikan di Aceh membutuhkan dana yang besar. Tetapi sejak 4 tahun yang lalu, Aceh memiliki dana milyaran rupiah untuk membangun pandidikannya. Disamping itu mereka juga melihat bahwa hanya uang yang kita perlukan untuk membangun pendidikan di Aceh. Malaysiaa bisa menjadi contoh bagi Aceh untuk membangun pendidikan. Masyarakat di Malaysia mengatakan bahwa dulu Malaysia harus belajar dari Indonesia tetapi sekarang Indonesia harus belajar dari Malaysia.
Kadang – kadang kita masih berpikir bahwa dengan uang semua masalah akan selesai tetapi tidak akan membuat pendidikan sukses. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan agar pendidikan kita lebih baik. Yang pertama, departemen pendidikan harus tahu apa prioritas untuk Aceh. Yang kedua, pemerintah local adalah orang – orang yang tahu bagaimana membangun pendidikan di Aceh, bukan orang yang selalu korupsi dengan dana.
Yang mereka perlukan sekarang adalah guru yang memiliki kearifan untuk mendidik mereka agar kembali merasa hidup sebagai manusia yang utuh. Mungkin mereka akan ketinggalan dalam pelajaran konvensional, tetapi akan unggul dalam pendidikan psikologi.
Tak ada lagi perang di Aceh. Semuanya telah berakhir damai, sejak MoU Helsiki disepakati, 15 Agustus 2005 lalu. Kini Aceh sedang membangun rumahnya, masyarakatnya, ekonominya, sosial budayanya, jalan-jalannya, akses informasinya, syariatnya dan sederet lainnya yang berarti membuka diri untuk menantang arus globalisasi. Soal membuka diri, sudah saatnya Aceh melakukan itu. Saat konflik masih mendera, Aceh memang luka, pintu ke Aceh ditutup rapat oleh penguasa. Perang menjadi alasan bagi dunia untuk enggan masuk memberikan kontribusinya. Padalah, siapa yang tak mendambakan sebuah kemajuan.
Setelah damai ada, mungkinkah Aceh seperti Singapura, Malaysia atau Cina yang sudah lebih maju dari Indonesia? kita tak perlu lagi berdiam diri, keluarlah untuk melihat dunia dan undanglah tamu untuk membawa dunia ke Aceh. ‘Keluar dari Ghetto’, itulah salah satu poin yang dirilis Aguswandi lewat bukunya. Ghetto adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan suatu area terpisah dimana seseorang atau sekelompok orang mengurung atau dikurung, sehingga terpisah dari kelompoknya. Banyak pengetahuan dan ide – ide baru untuk sebuah tujuan yang diinginkan yaitu Aceh yang maju. Tinggal menghitung hari melihat Aceh yang benar benar baru. Setelah tak ada lagi perang di Bumi Serambi.
Ekonomi Aceh Pasca 3 Tahun Tsunami
Proses rehabilitasi dan rekonstruksi terus berjalan. Perlahan-lahan Aceh mulai bangkit kembali. Namun, proses tersebut masih dirasakan sangat lambat. Ditengah cash in flow yang begitu besar mencapai US$5,8 milyar, pembangunan Aceh masih menghasilkan realisasi fisik yang minim. Membangun sesuatu yang fisik saja masih lambat apalagi untuk human developmentnya. Hasil survey dari World Bank dan Bappenas menyebutkan bahwa tingkat kerusakan yang dialami dalam sektor perekonomian adalah mencapai US $ 1,2 milyar. Hal ini akibat rusaknya sektor yang produktif, kegiatan ekonomi yang menurun sebanyak 5%, bertambahnya 325.000 penduduk miskin, dan 100.000 pengusaha kecil kehilangan usahanya.
Setahun Tsunami
Tak ada yang bisa menduga, termasuk korban tsunami bahwa mereka kini pupus segalanya: keluarga, harta, dan pekerjaan. Dan bahkan jika tidak diselamatkan, mereka juga akan kehilangan sesuatu yang masih tersisa, yaitu masa depannya.Tiga bulan pertama merupakan masa kritis dalam menyelamatkan kehidupan jangka pendek korban namun telah terlalui dengan berbagai suka duka. . Bagaimanapun, kepada berbagai pihak yang telah sigap membantu korban tsunami patut diberikan apresiasi.
Untuk mengembalikan Aceh kembali, diperkirakan mencapai US$ 5,8 milyar dan pada tahun 2005 dengan dana sebesar US$ 4,4 milyar telah dialokasikan untuk proyek-proyek khusus dengan rincian pemerintah (termasuk anggran 2006) sebesar US$ 1,1 milyar, LSM US$ 1,5 milyar, dan donor US$ 1,8 milyar.
Setahun tsunami, tidak dipungkiri bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh kembali sudah mulai berjalan. Hasil laporan setahun BRR menyebutkan berbagai keberhasilan telah dilakukan dalam rehab dan rekons Aceh, diantaranya; pembangunan fisik yang berupa jalan, jembatan, kegiatan ekonomi berskala kecil, pembangunan sarana dan prasarana, dll. Namun, Daya serap untuk tahun 2005 hanya sebesar 17,61% (US$ 775 juta dari US$ 4,4, milyar). Realisasi daya serap yang sangat minim ini membuktikan bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca setahun tsunami masih sangat minim dan lambat.
Jika kita melihat kondisi riil di lapangan, masih begitu banyak pengungsi yang tinggal di tenda pada akhir tahun 2005 yang lalu, masyarakat yang sulit mencari mata pencaharian, sulitnya mendapatkan akses modal usaha, pelaksanaan pelatihan usaha yang tidak tepat sasaran, dan sebagainya. . Kondisi ini sangat memprihatinkan dan masih sedikit sekali memberikan perkembangan rehab dan rekons Aceh.
Dua Tahun Dan Tiga Tahun Tsunami
Dimana kita setelah 2 tahun tsunami? Itu mungkin yang akan menjadi pertanyaan didalam diri kita masing-masing. Dari hasil berbagai diskusi, pengamatan dan opini pakar, upaya perbaikan ekonomi masyarakat dirasakan masih belum optimal. Indikasi ini dilihat dari masih tingginya angka kemiskinan (43,67%) atau 1.760.764 jiwa, pengangguran terbuka (46,88%) atau 1.255.388 jiwa. Langkah-langkah perbaikan ekonomi yang strategis, sistematis dan sinergis pun masih belum kelihatan. Hal ini juga dibuktikan dengan minimnya daya serap anggaran per November 2006 yang hanya sebesar 26,84%.
Dana rehab dan rekons Aceh pada tahun 2006 mulai bertambah menjadi US$ 5,8 milyar, yang terdiri dari pemerintah (US$ 2 milyar), LSM (US$ 1,6 milyar), dan Donor (US$ 2,2 milyar). Jika kita membandingkan dana yang dibutuhkan dengan dana yang tersedia maka kebutuhan dana sudah terpenuhi. Sehingga tidak ada lagi alasan bagi BRR untuk tidak mempercepat proses rekonstruksi Aceh. Terlebih lagi ada dana komitmen dari donor, NGO dan pemerintah sebesar US$ 1,9 milyar untuk membuat Aceh kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya dan ini menjadi moment yang paling berharga jika bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Dana begitu melimpah diberikan untuk Aceh, sekarang tinggal bagaimana mengatur dana tersebut. Apabila BRR dan Pemerintah mempunyai program dengan skala prioritas dan bisa menuntaskan pelaksanaan secara final per sektor per program maka bisa dipastikan bahwa proses rekonstruksi dan pembangunan Aceh bisa berjalan dengan cepat. Semua tergantung dari niat dan nawaytu yang ada. Selama ini, kesan BRR sebagai lembaga yang bergerak di semua bidang begitu kentara. Tidak mempunyai skala prioritas, itu yang tergambar dari implementasi program selama ini.
Dalam hirarkhi kebutuhan Maslow, seharusnya kebutuhan dasar harus dipenuhi terlebih dahulu. Dalam situasi pasca tsunami 26 Desember 2004, yang mejadi kebutuhan dasar masyarakat adalah perumahan dan ekonominya. Bagaimana pertumbuhan ekonomi Aceh bisa meningkat jika sektor produksi melalui sektor riel minim? Bagaimana sektor riel bisa berjalan apabila akses modal sangat kurang, terlebih lagi dana yang mengendap di bank mencapai Rp. 5,1 milyar? Dan bagaimana masyarakat bisa mengakses modal usaha apabila rumah belum ada? Dan mengapa sampai dengan tahun ini BRR hanya mampu menyelesaikan 40.085 rumah dari target 78.000 rumah di tahun 2006? Belum lagi jika kita melihat rumah yang dibangun asal jadi, dinding retak, miring, atap bocor, tidak ada fasilitas MCK, kuda-kuda yang rapuh, dsb.
Mengapa BRR dan pemerintah belum lagi bisa belajar dari dari dua tahun yang lalu ? Sudah tiga tahun tsunami berlalu tapi masih banyak masyarakat yang belum mempunyai mata pencaharian sehingga sangat wajar bila angka kemiskinan di daerah ini meningkat dari 27% pada tahun 2004 menjadi 43,67% pada tahun 2005 ditengah uang yang begitu besar mengalir di Aceh sebesar Rp. 7,1 Trilyun? Parahnya lagi, Rp. 1,7 trilyun ditanggung oleh rumah tangga akibat inflasi yang sangat tinggi. Kita berharap Aceh bisa menjadi lebih baik, namun bagaimana bisa menjadikan Aceh lebih baik jika pemerintah dan BRR belum menunjukkan niat seperti itu? Semoga di tahun 2007 ini, niat baik para pengambil kebijakan bisa terlaksana dan proses pembangunan Aceh kembali bisa lebih cepat. Semoga...
Minggu, Agustus 23, 2009
Tradisi Meugang dan Makan – makan
Ada dua tradisi yang tumbuh dalam masyarakat Aceh Selatan, yakni meugang dan makan – makan. Meugang atau Uroe Meugang merupakan tradisi atau budaya yang mengalir di dalam masyarakat yakni dimana warga membeli daging kerbau atau sapi untuk menyambut bulan suci ramadhan. Dihari ini juga dibagikan daging – daging tersebut kepada anak – anak yatim yang berada di sekitar kota Tapaktuan. Ini merupakan hari special dimana seluruh warga dapat memakan daging yang merupakan makanan yang mewah di Aceh.
Setelah hari meugang, esoknya masyarakat melakukan makan – makan atau hari makan – makan. Pada hakikatnya hari makan – makan adalah hari diamana kita memakan makanan yang telah dimasak kemarin bersama keluarga di halaman rumah atau hanya disalam rumah karena besoknya kita akan melaksanakan puasa. Namun euphoria yang terjadi di masyarakat adalah semua warga baik tua maupun muda berbondong mengunjungi tempat wisata, kolam renang, tepi pantai dan tempat – tempat indah lainnya.
Hal yang ditakutkan adalah perilaku yang melenceng dari para muda mudi. Para muda mudi pergi berdua – duaan, bergandengan tangan, yang justru merusak niat dari menyambut bulan ramadhan itu. Selain itu ketika pulang dari tempat wisata, saking terburu – burunya untuk pulang karena nanti malam akan melaksanakan sholat tarawih, maka ngebutlah dalam mengendarai mobil atau sepeda motor. Tiba – tiba tersenggol siku orang lain dan harus dibawa ke rumah sakit dan melewati ramadhan bersama pasien lainnya.. Ketika mandi di kolam atau di sungai, berjam – jam sampai mata merah, ketika pulang maka timbullah sakit kepala dan tidak bisa melaksanakn sholat tarawih malamnya.
Jadi dalam menyambut ramadhan ini, tidak perlulah kita terlalu berfoya – foya atau terlalu ria, karena akibatnya akan fatal. Namun yang lebih baik adalah mempersiapkan niat yang ikhlas untuk melaksanakan puasa dan mengharap ridho-Nya.
Hal yang ditakutkan adalah perilaku yang melenceng dari para muda mudi. Para muda mudi pergi berdua – duaan, bergandengan tangan, yang justru merusak niat dari menyambut bulan ramadhan itu. Selain itu ketika pulang dari tempat wisata, saking terburu – burunya untuk pulang karena nanti malam akan melaksanakan sholat tarawih, maka ngebutlah dalam mengendarai mobil atau sepeda motor. Tiba – tiba tersenggol siku orang lain dan harus dibawa ke rumah sakit dan melewati ramadhan bersama pasien lainnya.. Ketika mandi di kolam atau di sungai, berjam – jam sampai mata merah, ketika pulang maka timbullah sakit kepala dan tidak bisa melaksanakn sholat tarawih malamnya.
Jadi dalam menyambut ramadhan ini, tidak perlulah kita terlalu berfoya – foya atau terlalu ria, karena akibatnya akan fatal. Namun yang lebih baik adalah mempersiapkan niat yang ikhlas untuk melaksanakan puasa dan mengharap ridho-Nya.
Ekskul Ramadhan
Di SMAN Unggul Aceh Selatan ekskul tidak hanya dilakukan di sekolah dan dihari efektif belajar, namun juga pada bulan puasa. Sudah menjadi rutinitas bagi seluruh siswa – siswi tanpa kecuali untuk memberikan ceramah atau pidato selepas sholat tarawih dan witir di mushola atau mesjid setempat. Selain untuk tujuan dakwah, kegiatan ini juga dilakukan dalam rangka belajar yakni bagaimana seorang siswa dapat menerapkan atau mengamalkan materi – materi yang telah diajarkan di sekolah oleh para guru khususnya pendidikan agama.
Sebelum meninggalkan asrama, siswa diberi sebuah surat dan sebuah form sebagai bukti dari kegiatan yang kita lakukan dengan meminta tanda tangan iman mushola atau mesjid tempat kita berceramah. Surat tersebut terlebih dahulu diberikan kepada imam mushola untuk memberitahukan kegiatan yang akan kita lakukan sekaligus meminta izin untuk melakukan kegiatan ekskul tersebut.
Siswa diwajibkan untuk memberikan ceramah minimal 3 kali. Kebanyakan siswa melakukannya lebih dari tiga dan tidak sedikit pula yang mengerjakan kurang dari yang diwajibkan. Tahun lalu dari pengamatan yang saya lakukan, Alhamdulillah saya memecahkan rekor ceramah sebanyak 7 kali. Ini adalah tahun ketiga dan tahun terakhir saya mengikuti ekskul ini. Mudah – mudahan tidak hanya karena mendapat tugas dari sekolah saja kita melakukan ceramah ini, namun juga karena tujuan semata – mata karena Allah dan untuk berdakawah mamberikan ilmu yang kita miliki untuk orang banyak. Amin…
Siswa diwajibkan untuk memberikan ceramah minimal 3 kali. Kebanyakan siswa melakukannya lebih dari tiga dan tidak sedikit pula yang mengerjakan kurang dari yang diwajibkan. Tahun lalu dari pengamatan yang saya lakukan, Alhamdulillah saya memecahkan rekor ceramah sebanyak 7 kali. Ini adalah tahun ketiga dan tahun terakhir saya mengikuti ekskul ini. Mudah – mudahan tidak hanya karena mendapat tugas dari sekolah saja kita melakukan ceramah ini, namun juga karena tujuan semata – mata karena Allah dan untuk berdakawah mamberikan ilmu yang kita miliki untuk orang banyak. Amin…
Do Re Mi....
Ekskul Paduan Suara
“ Melambai – lambai, nyiur di pantai, berbisik – bisik raja klana. Memuja pulau , nan indah permai, tanah airku, Indonesia “
Itulah penggalan dari lagu Rayuan Pulau Kelapa karya Ismail Marzuki yang sering kami nyanyikan ketika mengikuti ekskul paduan suara. Memang ekskul ini kurang diminati oleh siswa namun saya tetap bersemangat untuk mengikutinya. Ekskul ini memang sengaja diadakan untuk mempersiapkan siswa – siswi yang akan mengikuti lomba paduan suara Gita Bahana Nusantara di tingkat kabupaten. Lomba paduan suara Gita Bahana Nusantara adalah lomba yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang bertujuan untuk mencari siswa – siswi dengan vocal suara yang bagus yang akan menyanyi di Istana Merdeka pada perayaan HUT RI.
Sebelum mengikuti ekskul ini, siswa harus dicek terlebih dahulu daerah suaranya, apakah berada di daerah rendah pria ( Bass) atau suara tinggi pria ( Tenor ), suara rendah wanita ( Alto ) atau suara tinggi wanita ( Sopran ). Lagu - lagu yang kami nyanyikan adalah lagu perjuangan dan lagu kemerdekaan yang sekarang sudah tidak diminati lagi oleh para remaja, seperti Hari Merdeka, Rayuan Pulau Kelapa, Padamu Negeri, Indonesia Tanah pusaka, dan lain – lain.
Saya adalah salah satu yang berhasil mewakili SMAN UNGGUL baik di tingkat kabupaten maupun di tingkat provinsi. Suatu pengalaman yang tidak bisa saya lupakan. Berkat mengikuti ekskul Paduan Suara dan bimbingan dari para pelatih saya bisa menduduki peringkat ke 4 se-Aceh.
Di bawah bimbingan ibu Sri Nastuti atau yang akrab kami panggil Bu’ Tuti, telah banyak siswa – siswi yang berhasil dalam perlombaan ini baik di tingkat kabupaten maupun di tingkat provinsi. Namun sayang belum ada perwakilan dari SMAN UNGGUL ACEH SELATAN yang pernah mewakili Provinsi Aceh ke tingkat nasional. Bu Tuti yang juga merangkap sebagai guru TIK ini juga sering memberikan tekhnik menyanyi yang baik bagi kami siswa – siswanya. Dimulai dari solmisasi nada, bagaimana menghasilkan vibra, membulatkan suara, sampai mengiterpretasikan sebuah lagu ( pengahayatan, dan mimic wajah ).
Atas prakarsa bu Tuti jugalah , terbentuk sebuah grup nasyid SMAN UNGGUL ACEH SELATAN dengan nama “ Al – Mu’alim”. Lagu – lagu yang sering kami bawakan ketika manggung adalah Suplication dari Samy Yusuf, Tihamah dari Senada dan lain - lain
Itulah penggalan dari lagu Rayuan Pulau Kelapa karya Ismail Marzuki yang sering kami nyanyikan ketika mengikuti ekskul paduan suara. Memang ekskul ini kurang diminati oleh siswa namun saya tetap bersemangat untuk mengikutinya. Ekskul ini memang sengaja diadakan untuk mempersiapkan siswa – siswi yang akan mengikuti lomba paduan suara Gita Bahana Nusantara di tingkat kabupaten. Lomba paduan suara Gita Bahana Nusantara adalah lomba yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang bertujuan untuk mencari siswa – siswi dengan vocal suara yang bagus yang akan menyanyi di Istana Merdeka pada perayaan HUT RI.
Sebelum mengikuti ekskul ini, siswa harus dicek terlebih dahulu daerah suaranya, apakah berada di daerah rendah pria ( Bass) atau suara tinggi pria ( Tenor ), suara rendah wanita ( Alto ) atau suara tinggi wanita ( Sopran ). Lagu - lagu yang kami nyanyikan adalah lagu perjuangan dan lagu kemerdekaan yang sekarang sudah tidak diminati lagi oleh para remaja, seperti Hari Merdeka, Rayuan Pulau Kelapa, Padamu Negeri, Indonesia Tanah pusaka, dan lain – lain.
Saya adalah salah satu yang berhasil mewakili SMAN UNGGUL baik di tingkat kabupaten maupun di tingkat provinsi. Suatu pengalaman yang tidak bisa saya lupakan. Berkat mengikuti ekskul Paduan Suara dan bimbingan dari para pelatih saya bisa menduduki peringkat ke 4 se-Aceh.
Di bawah bimbingan ibu Sri Nastuti atau yang akrab kami panggil Bu’ Tuti, telah banyak siswa – siswi yang berhasil dalam perlombaan ini baik di tingkat kabupaten maupun di tingkat provinsi. Namun sayang belum ada perwakilan dari SMAN UNGGUL ACEH SELATAN yang pernah mewakili Provinsi Aceh ke tingkat nasional. Bu Tuti yang juga merangkap sebagai guru TIK ini juga sering memberikan tekhnik menyanyi yang baik bagi kami siswa – siswanya. Dimulai dari solmisasi nada, bagaimana menghasilkan vibra, membulatkan suara, sampai mengiterpretasikan sebuah lagu ( pengahayatan, dan mimic wajah ).
Atas prakarsa bu Tuti jugalah , terbentuk sebuah grup nasyid SMAN UNGGUL ACEH SELATAN dengan nama “ Al – Mu’alim”. Lagu – lagu yang sering kami bawakan ketika manggung adalah Suplication dari Samy Yusuf, Tihamah dari Senada dan lain - lain
Langganan:
Postingan (Atom)