Senin, Agustus 31, 2009

PENDIDIKAN DAN EKONOMI ACEH PASCA 3 TAHUN TSUNAMI

“ Juara III Lomba Penulisan Artikel dalam Rangka 3 Tahun Tsunami Se NAD Tahun 2007 “

Oleh GEMA WAHYUDI

Menyelamatkan Pendidikan Anak – Anak Aceh
KESEDIHAN menyelimuti bangsa Indonesia saat Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara (Nias) diterjang gempa dan tsunami yang menelan ratusan ribu jiwa. Di antara korban meninggal, hilang, atau terselamatkan, 35 persennya adalah anak- anak.
Anak-anak memerlukan perhatian khusus karena mereka belum bisa menyelamatkan diri sendiri dan memerlukan uluran tangan orang dewasa. Anak-anak tidak hanya memerlukan pangan, sandang, dan papan, tetapi juga pendidikan. Ironisnya, kebutuhan pendidikan justru sering terabaikan dan baru terpikirkan setelah kebutuhan lainnya terpenuhi.
Pendidikan konseling
Ada berbagai tipe anak pascagempa, yaitu menjadi yatim piatu karena kedua orangtuanya meninggal, yatim saja karena hanya salah satu orangtuanya hilang. Dan, ada yang masih hidup bersama kedua orangtua mereka, tetapi karena gempa memorakporandakan harta, mereka hidup dalam kesengsaraan dan masa depan yang tidak jelas. Karena ada berbagai tipe anak, maka diperlukan pendekatan beragam.
Pertama, mereka yang menjadi yatim piatu dan usianya masih balita memerlukan perlindungan fisik dari orang yang sudah dewasa agar dapat jasmani dan rohani tumbuh sehat. Secara fisik, mereka terselamatkan dari bencana, tetapi belum tahu apa yang terjadi pada dirinya. Mereka terpisah dari orangtuanya, tetapi belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Anak-anak usia balita memerlukan pendekatan khusus yang dapat dilakukan orangtua berpengalaman, bukan relawan yang masih belia. Kesediaan suami-istri mengangkat mereka sebagai anak akan memberi rasa aman dan nyaman yang lebih abadi dibandingkan dengan menitipkan mereka ke panti asuhan.


Kebutuhan pangan dan sandang di panti asuhan mungkin tercukupi, tetapi secara psikologis, mereka rentan. Suatu saat akan muncul dendam pada diri sendiri setelah mengetahui sejarah hidupnya. Masalahnya, tidak mudah mencari orangtua asuh yang tulus. Hal itu terbukti dengan masih adanya orang yang tega hidup di atas penderitaan sesama dengan memperjualbelikan anak-anak yang terpisah dari orangtua.
Pada beberapa anak, cara pendekatannya berbeda, yaitu melalui pendidikan konseling. Bukan oleh seorang konselor ahli dan kaum profesional, tetapi guru dan sanak kerabat yang sudah dewasa. Karena, tanpa disadari, dalam kehidupan keseharian, mereka telah menjalankan konseling di lingkungan kehidupan Aceh yang religius dan menekankan kepasrahan kepada Allah.
Konseling semacam ini penting karena dalam situasi bergelimang derita tidak ada jalan lain kecuali pendidikan yang membawa kesadaran orang untuk hidup melulu menyandarkan diri pada kasih dan penyelenggaraan ilahi. Pendidikan semacam itu dapat dilakukan oleh siapa saja. Pendidikan konseling dapat meneguhkan semangat hidup anak-anak yang terlepas dari orangtuanya, bahwa kebahagiaan senantiasa hadir dalam penderitaan riil keseharian masyarakat. Aceh tetaplah taman firdaus ( Darussalam ), meski bumi Aceh kini sedang memanggul beban penderitaan teramat berat. Tragedi ini diharapkan dapat menjadi pelajaran bersama dan mengintropeksi diri. Termasuk GAM dan TNI bahwa tidak ada gunanya terus berperang dengan senjata karena akhirnya mereka tidak mampu menyelamatkan dirinya dari gempa dan tsunami. Bagi mereka yang kedua orangtuanya masih selamat, tetapi harta bendanya hancur atau hilang, pendidikan justru perlu difokuskan kepada orangtuanya agar mereka memiliki ketabahan sekaligus kesabaran dalam mendidik anak-anaknya
Menghindari formalisasi
Mengingat kebutuhan mendesak adalah pendidikan yang mampu memberi semangat dan pengharapan anak – anak korban tsunami untuk tetap hidup dalam keadaan yang sedemikian, agaknya kurikulum pendidikan dan proses pengajaran yang formalitas boleh diabaikan . Segala bentuk formalitas , termasuk kurikulum, buku pelajaran, standarisasi dan kualifikasi yang dipersyaratkan dalam pengajaran hendaknya diabaikan dulu. Yang diperlukan lebih dulu adalah rehabilitasi psikologi karena jungkir balik diguncang bencana. Anak – anak Aceh kini memerlukan pendidikan yang mampu memberi semangat dan harapan untuk hidup dialam nyata.
Solidaritas kemanusiaan universal sebagai wujud kepedulian untuk Aceh yang datang dari berbagai penjuru dunia. Semangat ini dapat dilihat sendiri oleh anak-anak Aceh saat mereka menyambut uluran tangan tanpa pamrih dari siapa pun yang berbela rasa kepada mereka. Bukankah ini media pengajaran yang luar biasa dahsyat dalam rangka menyalakan semangat hidup di tengah samudra keterpurukan? Ibaratnya adalah menyalakan secercah cahaya di lorong kegelapan bagi anak- anak di Aceh.
Konseling berbasis penderitaan ini bukan kegiatan untuk meninabobokan anak-anak Aceh, tetapi mengajarkan kepadanya bahwa hidup mesti realistis. Tak perlu tergesa membangun gedung sekolah dan mencetak buku-buku baru-yang rawan korupsi-khusus untuk anak-anak Aceh karena pendidikan mereka dapat diselamatkan dengan menggunakan rumah-rumah penduduk yang masih utuh, sedangkan buku bisa digantikan dengan kekayaan alam dan budaya Aceh.
Tsunami telah menghancurkan pendidikan di Aceh. Bencana tersebut telah menghancurkan dan membunuh ratusan guru dan murid. Sebelum tsunami terjadi konflik di Aceh. Ratusan sekolah terbakar, tetapi sekarang dengan kedamaian dan dan investor luar negeri, anak – anak Aceh mempunyai kesempatan kembali untuk belajar.
Banyak orang mengatakan bahwa pembangunan pendidikan di Aceh membutuhkan dana yang besar. Tetapi sejak 4 tahun yang lalu, Aceh memiliki dana milyaran rupiah untuk membangun pandidikannya. Disamping itu mereka juga melihat bahwa hanya uang yang kita perlukan untuk membangun pendidikan di Aceh. Malaysiaa bisa menjadi contoh bagi Aceh untuk membangun pendidikan. Masyarakat di Malaysia mengatakan bahwa dulu Malaysia harus belajar dari Indonesia tetapi sekarang Indonesia harus belajar dari Malaysia.
Kadang – kadang kita masih berpikir bahwa dengan uang semua masalah akan selesai tetapi tidak akan membuat pendidikan sukses. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan agar pendidikan kita lebih baik. Yang pertama, departemen pendidikan harus tahu apa prioritas untuk Aceh. Yang kedua, pemerintah local adalah orang – orang yang tahu bagaimana membangun pendidikan di Aceh, bukan orang yang selalu korupsi dengan dana.
Yang mereka perlukan sekarang adalah guru yang memiliki kearifan untuk mendidik mereka agar kembali merasa hidup sebagai manusia yang utuh. Mungkin mereka akan ketinggalan dalam pelajaran konvensional, tetapi akan unggul dalam pendidikan psikologi.
Tak ada lagi perang di Aceh. Semuanya telah berakhir damai, sejak MoU Helsiki disepakati, 15 Agustus 2005 lalu. Kini Aceh sedang membangun rumahnya, masyarakatnya, ekonominya, sosial budayanya, jalan-jalannya, akses informasinya, syariatnya dan sederet lainnya yang berarti membuka diri untuk menantang arus globalisasi. Soal membuka diri, sudah saatnya Aceh melakukan itu. Saat konflik masih mendera, Aceh memang luka, pintu ke Aceh ditutup rapat oleh penguasa. Perang menjadi alasan bagi dunia untuk enggan masuk memberikan kontribusinya. Padalah, siapa yang tak mendambakan sebuah kemajuan.
Setelah damai ada, mungkinkah Aceh seperti Singapura, Malaysia atau Cina yang sudah lebih maju dari Indonesia? kita tak perlu lagi berdiam diri, keluarlah untuk melihat dunia dan undanglah tamu untuk membawa dunia ke Aceh. ‘Keluar dari Ghetto’, itulah salah satu poin yang dirilis Aguswandi lewat bukunya. Ghetto adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan suatu area terpisah dimana seseorang atau sekelompok orang mengurung atau dikurung, sehingga terpisah dari kelompoknya. Banyak pengetahuan dan ide – ide baru untuk sebuah tujuan yang diinginkan yaitu Aceh yang maju. Tinggal menghitung hari melihat Aceh yang benar benar baru. Setelah tak ada lagi perang di Bumi Serambi.
Ekonomi Aceh Pasca 3 Tahun Tsunami
Proses rehabilitasi dan rekonstruksi terus berjalan. Perlahan-lahan Aceh mulai bangkit kembali. Namun, proses tersebut masih dirasakan sangat lambat. Ditengah cash in flow yang begitu besar mencapai US$5,8 milyar, pembangunan Aceh masih menghasilkan realisasi fisik yang minim. Membangun sesuatu yang fisik saja masih lambat apalagi untuk human developmentnya. Hasil survey dari World Bank dan Bappenas menyebutkan bahwa tingkat kerusakan yang dialami dalam sektor perekonomian adalah mencapai US $ 1,2 milyar. Hal ini akibat rusaknya sektor yang produktif, kegiatan ekonomi yang menurun sebanyak 5%, bertambahnya 325.000 penduduk miskin, dan 100.000 pengusaha kecil kehilangan usahanya.
Setahun Tsunami
Tak ada yang bisa menduga, termasuk korban tsunami bahwa mereka kini pupus segalanya: keluarga, harta, dan pekerjaan. Dan bahkan jika tidak diselamatkan, mereka juga akan kehilangan sesuatu yang masih tersisa, yaitu masa depannya.Tiga bulan pertama merupakan masa kritis dalam menyelamatkan kehidupan jangka pendek korban namun telah terlalui dengan berbagai suka duka. . Bagaimanapun, kepada berbagai pihak yang telah sigap membantu korban tsunami patut diberikan apresiasi.
Untuk mengembalikan Aceh kembali, diperkirakan mencapai US$ 5,8 milyar dan pada tahun 2005 dengan dana sebesar US$ 4,4 milyar telah dialokasikan untuk proyek-proyek khusus dengan rincian pemerintah (termasuk anggran 2006) sebesar US$ 1,1 milyar, LSM US$ 1,5 milyar, dan donor US$ 1,8 milyar.
Setahun tsunami, tidak dipungkiri bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh kembali sudah mulai berjalan. Hasil laporan setahun BRR menyebutkan berbagai keberhasilan telah dilakukan dalam rehab dan rekons Aceh, diantaranya; pembangunan fisik yang berupa jalan, jembatan, kegiatan ekonomi berskala kecil, pembangunan sarana dan prasarana, dll. Namun, Daya serap untuk tahun 2005 hanya sebesar 17,61% (US$ 775 juta dari US$ 4,4, milyar). Realisasi daya serap yang sangat minim ini membuktikan bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca setahun tsunami masih sangat minim dan lambat.
Jika kita melihat kondisi riil di lapangan, masih begitu banyak pengungsi yang tinggal di tenda pada akhir tahun 2005 yang lalu, masyarakat yang sulit mencari mata pencaharian, sulitnya mendapatkan akses modal usaha, pelaksanaan pelatihan usaha yang tidak tepat sasaran, dan sebagainya. . Kondisi ini sangat memprihatinkan dan masih sedikit sekali memberikan perkembangan rehab dan rekons Aceh.
Dua Tahun Dan Tiga Tahun Tsunami
Dimana kita setelah 2 tahun tsunami? Itu mungkin yang akan menjadi pertanyaan didalam diri kita masing-masing. Dari hasil berbagai diskusi, pengamatan dan opini pakar, upaya perbaikan ekonomi masyarakat dirasakan masih belum optimal. Indikasi ini dilihat dari masih tingginya angka kemiskinan (43,67%) atau 1.760.764 jiwa, pengangguran terbuka (46,88%) atau 1.255.388 jiwa. Langkah-langkah perbaikan ekonomi yang strategis, sistematis dan sinergis pun masih belum kelihatan. Hal ini juga dibuktikan dengan minimnya daya serap anggaran per November 2006 yang hanya sebesar 26,84%.
Dana rehab dan rekons Aceh pada tahun 2006 mulai bertambah menjadi US$ 5,8 milyar, yang terdiri dari pemerintah (US$ 2 milyar), LSM (US$ 1,6 milyar), dan Donor (US$ 2,2 milyar). Jika kita membandingkan dana yang dibutuhkan dengan dana yang tersedia maka kebutuhan dana sudah terpenuhi. Sehingga tidak ada lagi alasan bagi BRR untuk tidak mempercepat proses rekonstruksi Aceh. Terlebih lagi ada dana komitmen dari donor, NGO dan pemerintah sebesar US$ 1,9 milyar untuk membuat Aceh kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya dan ini menjadi moment yang paling berharga jika bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Dana begitu melimpah diberikan untuk Aceh, sekarang tinggal bagaimana mengatur dana tersebut. Apabila BRR dan Pemerintah mempunyai program dengan skala prioritas dan bisa menuntaskan pelaksanaan secara final per sektor per program maka bisa dipastikan bahwa proses rekonstruksi dan pembangunan Aceh bisa berjalan dengan cepat. Semua tergantung dari niat dan nawaytu yang ada. Selama ini, kesan BRR sebagai lembaga yang bergerak di semua bidang begitu kentara. Tidak mempunyai skala prioritas, itu yang tergambar dari implementasi program selama ini.
Dalam hirarkhi kebutuhan Maslow, seharusnya kebutuhan dasar harus dipenuhi terlebih dahulu. Dalam situasi pasca tsunami 26 Desember 2004, yang mejadi kebutuhan dasar masyarakat adalah perumahan dan ekonominya. Bagaimana pertumbuhan ekonomi Aceh bisa meningkat jika sektor produksi melalui sektor riel minim? Bagaimana sektor riel bisa berjalan apabila akses modal sangat kurang, terlebih lagi dana yang mengendap di bank mencapai Rp. 5,1 milyar? Dan bagaimana masyarakat bisa mengakses modal usaha apabila rumah belum ada? Dan mengapa sampai dengan tahun ini BRR hanya mampu menyelesaikan 40.085 rumah dari target 78.000 rumah di tahun 2006? Belum lagi jika kita melihat rumah yang dibangun asal jadi, dinding retak, miring, atap bocor, tidak ada fasilitas MCK, kuda-kuda yang rapuh, dsb.
Mengapa BRR dan pemerintah belum lagi bisa belajar dari dari dua tahun yang lalu ? Sudah tiga tahun tsunami berlalu tapi masih banyak masyarakat yang belum mempunyai mata pencaharian sehingga sangat wajar bila angka kemiskinan di daerah ini meningkat dari 27% pada tahun 2004 menjadi 43,67% pada tahun 2005 ditengah uang yang begitu besar mengalir di Aceh sebesar Rp. 7,1 Trilyun? Parahnya lagi, Rp. 1,7 trilyun ditanggung oleh rumah tangga akibat inflasi yang sangat tinggi. Kita berharap Aceh bisa menjadi lebih baik, namun bagaimana bisa menjadikan Aceh lebih baik jika pemerintah dan BRR belum menunjukkan niat seperti itu? Semoga di tahun 2007 ini, niat baik para pengambil kebijakan bisa terlaksana dan proses pembangunan Aceh kembali bisa lebih cepat. Semoga...

Minggu, Agustus 23, 2009

Tradisi Meugang dan Makan – makan

Ada dua tradisi yang tumbuh dalam masyarakat Aceh Selatan, yakni meugang dan makan – makan. Meugang atau Uroe Meugang merupakan tradisi atau budaya yang mengalir di dalam masyarakat yakni dimana warga membeli daging kerbau atau sapi untuk menyambut bulan suci ramadhan. Dihari ini juga dibagikan daging – daging tersebut kepada anak – anak yatim yang berada di sekitar kota Tapaktuan. Ini merupakan hari special dimana seluruh warga dapat memakan daging yang merupakan makanan yang mewah di Aceh.
Setelah hari meugang, esoknya masyarakat melakukan makan – makan atau hari makan – makan. Pada hakikatnya hari makan – makan adalah hari diamana kita memakan makanan yang telah dimasak kemarin bersama keluarga di halaman rumah atau hanya disalam rumah karena besoknya kita akan melaksanakan puasa. Namun euphoria yang terjadi di masyarakat adalah semua warga baik tua maupun muda berbondong mengunjungi tempat wisata, kolam renang, tepi pantai dan tempat – tempat indah lainnya.
Hal yang ditakutkan adalah perilaku yang melenceng dari para muda mudi. Para muda mudi pergi berdua – duaan, bergandengan tangan, yang justru merusak niat dari menyambut bulan ramadhan itu. Selain itu ketika pulang dari tempat wisata, saking terburu – burunya untuk pulang karena nanti malam akan melaksanakan sholat tarawih, maka ngebutlah dalam mengendarai mobil atau sepeda motor. Tiba – tiba tersenggol siku orang lain dan harus dibawa ke rumah sakit dan melewati ramadhan bersama pasien lainnya.. Ketika mandi di kolam atau di sungai, berjam – jam sampai mata merah, ketika pulang maka timbullah sakit kepala dan tidak bisa melaksanakn sholat tarawih malamnya.
Jadi dalam menyambut ramadhan ini, tidak perlulah kita terlalu berfoya – foya atau terlalu ria, karena akibatnya akan fatal. Namun yang lebih baik adalah mempersiapkan niat yang ikhlas untuk melaksanakan puasa dan mengharap ridho-Nya.

Ekskul Ramadhan

Di SMAN Unggul Aceh Selatan ekskul tidak hanya dilakukan di sekolah dan dihari efektif belajar, namun juga pada bulan puasa. Sudah menjadi rutinitas bagi seluruh siswa – siswi tanpa kecuali untuk memberikan ceramah atau pidato selepas sholat tarawih dan witir di mushola atau mesjid setempat. Selain untuk tujuan dakwah, kegiatan ini juga dilakukan dalam rangka belajar yakni bagaimana seorang siswa dapat menerapkan atau mengamalkan materi – materi yang telah diajarkan di sekolah oleh para guru khususnya pendidikan agama.
Sebelum meninggalkan asrama, siswa diberi sebuah surat dan sebuah form sebagai bukti dari kegiatan yang kita lakukan dengan meminta tanda tangan iman mushola atau mesjid tempat kita berceramah. Surat tersebut terlebih dahulu diberikan kepada imam mushola untuk memberitahukan kegiatan yang akan kita lakukan sekaligus meminta izin untuk melakukan kegiatan ekskul tersebut.
Siswa diwajibkan untuk memberikan ceramah minimal 3 kali. Kebanyakan siswa melakukannya lebih dari tiga dan tidak sedikit pula yang mengerjakan kurang dari yang diwajibkan. Tahun lalu dari pengamatan yang saya lakukan, Alhamdulillah saya memecahkan rekor ceramah sebanyak 7 kali. Ini adalah tahun ketiga dan tahun terakhir saya mengikuti ekskul ini. Mudah – mudahan tidak hanya karena mendapat tugas dari sekolah saja kita melakukan ceramah ini, namun juga karena tujuan semata – mata karena Allah dan untuk berdakawah mamberikan ilmu yang kita miliki untuk orang banyak. Amin…

Do Re Mi....

Ekskul Paduan Suara


“ Melambai – lambai, nyiur di pantai, berbisik – bisik raja klana. Memuja pulau , nan indah permai, tanah airku, Indonesia “

Itulah penggalan dari lagu Rayuan Pulau Kelapa karya Ismail Marzuki yang sering kami nyanyikan ketika mengikuti ekskul paduan suara. Memang ekskul ini kurang diminati oleh siswa namun saya tetap bersemangat untuk mengikutinya. Ekskul ini memang sengaja diadakan untuk mempersiapkan siswa – siswi yang akan mengikuti lomba paduan suara Gita Bahana Nusantara di tingkat kabupaten. Lomba paduan suara Gita Bahana Nusantara adalah lomba yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang bertujuan untuk mencari siswa – siswi dengan vocal suara yang bagus yang akan menyanyi di Istana Merdeka pada perayaan HUT RI.

Sebelum mengikuti ekskul ini, siswa harus dicek terlebih dahulu daerah suaranya, apakah berada di daerah rendah pria ( Bass) atau suara tinggi pria ( Tenor ), suara rendah wanita ( Alto ) atau suara tinggi wanita ( Sopran ). Lagu - lagu yang kami nyanyikan adalah lagu perjuangan dan lagu kemerdekaan yang sekarang sudah tidak diminati lagi oleh para remaja, seperti Hari Merdeka, Rayuan Pulau Kelapa, Padamu Negeri, Indonesia Tanah pusaka, dan lain – lain.

Saya adalah salah satu yang berhasil mewakili SMAN UNGGUL baik di tingkat kabupaten maupun di tingkat provinsi. Suatu pengalaman yang tidak bisa saya lupakan. Berkat mengikuti ekskul Paduan Suara dan bimbingan dari para pelatih saya bisa menduduki peringkat ke 4 se-Aceh.

Di bawah bimbingan ibu Sri Nastuti atau yang akrab kami panggil Bu’ Tuti, telah banyak siswa – siswi yang berhasil dalam perlombaan ini baik di tingkat kabupaten maupun di tingkat provinsi. Namun sayang belum ada perwakilan dari SMAN UNGGUL ACEH SELATAN yang pernah mewakili Provinsi Aceh ke tingkat nasional. Bu Tuti yang juga merangkap sebagai guru TIK ini juga sering memberikan tekhnik menyanyi yang baik bagi kami siswa – siswanya. Dimulai dari solmisasi nada, bagaimana menghasilkan vibra, membulatkan suara, sampai mengiterpretasikan sebuah lagu ( pengahayatan, dan mimic wajah ).

Atas prakarsa bu Tuti jugalah , terbentuk sebuah grup nasyid SMAN UNGGUL ACEH SELATAN dengan nama “ Al – Mu’alim”. Lagu – lagu yang sering kami bawakan ketika manggung adalah Suplication dari Samy Yusuf, Tihamah dari Senada dan lain - lain

Kamis, Agustus 20, 2009

Budaya Tulis

Berbicara mengenai budaya, kita tidak hanya membicarakan mengenai budaya yang berhubungan dengan adat, seni, ataupun pariwisata. Namun juga banyak budaya lain yang ada di lingkungan kita, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, ataupun di lingkungan sekolah. Banyak budaya – budaya yang perlu dikembangkan dalam lingkungan sekolah salah satunya adalah budaya menulis.
Banyak cara yang mengembangkan budaya menulis salah satunya dengan adanya program Madding ( Majalah Dinding ) yang dilaksanakan oleh OSIS. Melalui madding, siswa dapat menyalurkan potensi dan bakat mereka dalam bidang menulis sekaligus mempublikasikannya untuk dapat dibaca dan diakses oleh siswa lainnya. Tulisan mereka tidak harus bersifat sangat formal atau baku seperti karya tulis, namun juga atikel, puisi, tips n triks, kata – kata mutiara, atau bahkan sebuah karya yang sangat simple yaitu sebuah bait pantun.
Dengan dipublikasikannya karya mereka di majalah dinding sekolah saya yakin bahwa mereka akan lebih baik dimasa mendatang. Karya mereka akan dikomentari, diberi tanggapan, dan dikritik oleh siswa lainnya, dan hal itu akan menjadi suatu pembelajaran bagi mereka. Namun jika mereka hanya menyimpan karya mereka yang sangat spektakuler itu hanya untuk diri mereka sendiri, maka tidak akan ada suatu kemajuan pada diri mereka dalam hal menulis.
Budaya lain yang perlu dikembangkan adalah budaya baca. Saya melihat sangat minimnya tingkat antusias siswa untuk pergi ke perpustakaan. Ntah karena bukunya yang kurang menari, suasana perpusnya yang kurang nyaman, atau memang tidak ada minat bagi mereka untuk membaca di perpus. Di sekolah saya, siswa yang datang ke perpus setiap bulannya dapat dihitung dengan jari.
Hal – hal seperti ini perlu diperhatikan dan perlu mendapatkan perhatian yang lebih dari pihak sekolah. Budaya tulis dan budaya membaca ini memiliki hubungan yang sangat erat. Budaya menulis akan timbul dan berkembang dengan baik karena adanya budaya membaca. Ayo tunjukin karyamu dan go to library !!!

Coretan Sastra

Tidur

By : GM

Tidur
Mata terpejam, jiwa melayang

Tidur
Gerbang menuju alam mimpi

Tidur
Meninggalkan alam nyata
Menuju kehidupan maya

Tidur
Menghilangkan hati yang resah
Meringankan raga yang lelah

Tidur
Pasti ada saatnya untuk bangkit

Namun
Tidur untuk selamanya
Ketika nyawa berpisah dari raga

Itulah saatnya maut menjemput kita

Budaya Menulis = Budaya Nge-Blog ?

Tulisan ini terinspirasi dari tulisannya Mas Irfan soal Nge-Blog dengan Hati, yang katanya tulisan itu juga inspirasi dari blognya ndoroKakung. Heheh. Gapapa, keren tuh kan. Dengan jadi blogger kita bisa menjadi inspirasi dan ter-inspirasi bahkan dengan tanpa kita sadari.

Blog ialah sarana bagi para surfer yang suka nulis dan ingin berbagi soal pengalaman dan ilmunya lewat dunia maya. Dengan memiliki dan menulis blog kita bisa belajar banyak hal, khususnya dalam hal MENULIS. Sebenarnya dengan menjadi blogger tanpa disadari kita tengah berlomba dan berkompetisi dalam mengasah kemampuan kita menulis dan mengungkapkan berbagai ilmu dan pengalaman kita. Tidak ada hadiahnya memang dalam kompetisi ini, tapi kebanyakan blogger sudah sangat senang ketika ada orang lain yang mengunjungi blog-nya dan membaca tulisannya lalu apalagi mengomentari tulisan-tulisan tersebut. Itu artinya blog-nya disenangi orang lain.

jika kita pertama kali menjadi blogger, sepertinya getol sekali berpromosi tentang blog kita dan mencari cara bagaimana caranya status kita naik dan blog kita selalu menjadi primadona di dunia maya. Menurut saya itu hal yang wajar, selama itu menjadi stimulus bagi para blogger untuk mengembangkan dan mengasah kemampuan menulisnya, khususnya bagi yang merasa susah sekali menulis. Tapi lambat laun, lakukanlah sesuatu yang bernama nge-blog dengan hati. Jadi maksudnya, nge-blog bukan karena kita CAPER alias cari perhatian karena blog kita ingin dibaca dan dikunjungi orang, namun tulislah dengan sepenuh hati dan lagi-lagi tanpa disadari tulisan kita akan menjadi berkah dan diminati juga dicari orang lain.

Oke teman-teman, selamat nge-BLOG, selamat MENULIS.

Budaya Membaca, Menulis dan Ngeblog di Sekolah

Bahkan di dunia pendidikan seperti sekolah ataupun kampus, budaya membaca, menulis dan ngeblog masih merupakan barang yang langka. Di tingkat sekolah, yaitu sekolah SD, SMP, atau SMA, serangkaian budaya baca-tulis, apalagi dengan menggunakan fasilitas internet mungkin bisa ditemui di sekolah-sekolah yang menerapkan program ‘pendidikan bermutu’ saja yang antusias menjalankannya. Itupun dengan perbandingan yang tidak berimbang dengan banyaknya jumlah sekolah yang ada. Masih jarang sekolah yang memiliki fasilitas perpustakaan yang layak. Juga sedikit sekolah yang selalu berani memajang hasil karya tulis siswa di mading kelas atau mading sekolah. Budaya baca-tulis masih dianggap sepi oleh banyak kalangan pendidikan. Minimnya antusiasme pengembangan budaya baca tulis ini berlanjut sampai ke jenjang perguruan tinggi.
Masalah membaca, selain buku pelajaran sekolah, tidak mendapatkan apresiasi yang cukup dengan berbagai alasan. Ada yang bersemangat untuk mengadakan fasilitas perpustakaan sekolah, namun terkendala dengan dana pendidikan. Itu menurut sebagian dari mereka. Bagaimana bisa menyediakan fasilitas yang mahal itu, sedang membenahi kondisi kelas yang rusak saja pihak sekolah tidak mampu? Pentingnya buku dan budaya membaca-menulis menjadi urutan yang ke sekian saja dari seluruh keperluan pendidikan.

Menulis, meskipun di lingkungan pendidikan, masih menjadi tugas belajar yang belum membudaya. Hanya guru-guru tertentu yang berani mengajak siswanya menulis karangan dalam bentuk apa saja. Guru bahasa pun mungkin tidak terlalu rajin melatih siswa menghasilkan karya yang layak dibaca. Bisa dikatakan, kalau gurunya sendiri tidak pintar menulis, apalagi muridnya! Nalar sederhanya, berapa banyak siswa di masing-masing kelas, dan berapa banyak pajangan karya tulis mereka selama satu tahun pelajaran? Begitulah seterusnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ya jelas karena memang belum menjadi budaya. Kalau membaca dan menulis sudah menjadi budaya, maka apresiasi terhadap tulisan dan kegiatan tulis-menulis akan menjadi suatu keharusan. Ketidakhadiran karya tulis dalam konteks ini akan menjadi bahan pembicaraan. Apresiasi dan karya nyata adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan di sini.

Blogging atau ngeblog merupakan suatu pencapaian yang harus melewati tahapan-tahapan sebelumnya. Ngeblog adalah kegiatan menulis dengan media yang lebih canggih, dengan apresiasi spontan dari pembaca yang bukan hanya di lingkungan sekolah saja, tetapi mendunia. Kapan budaya ngeblog bisa menyentuh para guru dan siswanya di sekolah? Jawabannya akan terkait dengan masalah kapan pemerintah bisa mendorong tersedianya berbagai fasilitas ini dan itu di sekolah. Sempat juga menjadi persoalan yang unik ketika sekolah sudah memiliki segala macam fasilitas yang mewah, ternyata di masalah brainware dan budayanya yang tidak mendukung. Banyak sekali guru dan kalangan terdidik yang buta masalah teknologi mutakhir dan internet. Hal ini masih terjadi meskipun, misalnya, fasilitas di sekolah terbilang lengkap.

Membaca, menulis dan ngeblog adalah budaya tidak bisa serta merta ada dan menjadi budaya kalangan pendidik dan terdidik. Cukup kondisi ini saja sudah menjadi perenungan yang mahal. Apa perlu diseminarkan?

Selasa, Agustus 18, 2009

Sail Bunaken 2009


SANGSAKA UNDER WATER

Manado – Indonesia boleh berbangga karena pada hari ini, 17 Agustus 2009, bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia, tinta emas telah tercatat dalam sejarah dunia bahwa Indonesia telah memecahkan rekor dunia untuk penyelaman massal terbayak dan tercatat dalam Guiness Book Of world Record.
Acara ini dilangsungkan dengan cara yang unik yakni dengan upacara pengibaran bendera merah putih di dasar laut kota Manado, tepatnya di pantai Malalayang. Acara ini diikuti oleh 2465 penyelam yang berasal dari seluruh nusantara dan tidak lupa juga dari luar Indonesia. Jumlah ini mengalahkan rekor dunia yang sebelumnya dipegang oleh Maladiv yakni diikuti oleh 958 orang saja. Kita semua yakin bahwa rekor dunia yang sekarang dipegang oleh Indonesia akan sulit dikalahkan oleh Negara lain di dunia.
Upacara bendera bawah laut ini dipimpin oleh inspektur upacara Laksma Iskandar Sitompul dengan komandan upacara Laksdya mukhlas siddik. Uapacara ini dilaksanakan pada kedalaman 19 meter di bawah permukaan laut. Lapangan upacara sendiri merupakan dasar laut yang berpasir dengan panjang 162 m dan lebar 32,5 m. Upacara dimulai pada pukul 10.15 WIT dan berakhir pada pukul 10.30 WIT.
Acara ini merupakan rangkaian dari “ SAIL BUNAKEN 2009 “ yang pertama kalinya diadakan di Indonesia. Upacara ini juga menggunakan teknologi super canggih dimana lagu Indonesia Raya dinyanyikan di bawah laut dan dapat didengar oleh seluruh peserta upacara karena menggunakan speaker bawah laut yang tahan air.
Sangat pantas bahawa sangsaka merah putih berkibar tidak hanya di daratan Indonesia namun juga di laut Indonesia. Suatu hal yang unik ketika Indonesia memecahkan rekor dengan cara upacara yang bertepatan dengan HUT RI ke – 64 merupakan pesan kepada dunia internasional jika kita bersatu maka tidak akan ada yang mampu mengalahkan kita.
Tidak hanya di Bunaken saja, pengibaran bendera di bawah laut juga dilakukan di Sabang, derah kita tercinta. Upacara ini dilakukan pada pukul 14.00 WIB di dasar laut pulau Rubia. Pengibaran ini dilakukan oleh mahasiswa Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dengan dibantu oleh TNI Angkatan Laut. Tidak hanya pengibaran bendera, acara ini juga menampilkan taraian yang dibawakan di dasar laut. Bias kita bayangkan betapa sulitnya hal ini dilakukan. Namun dengan persiapan yang matang, kita semua yankin perosesi ini akan berlangsung dengan lancer dan dengan Zero Accident.
Dirgahayu Indonesia yang ke – 64, semoga Indonesia dapat menjadi bangsa yang kuata dan lebih maju di masa mendatang.

Tips n Tricks

TIPS EKSTRAKURIKULER

Di Jepang, ekstrakurikuler diputuskan oleh pihak sekolah sama pentingnya dengan program intrakurikuler. Dari sini akan diketahui bakat, minat, dan kemampuan siswa yang jika mendapat penanganan serius dari pihak sekolah bisa mencetak generasi terampil, termasuk atlet-atlet beken di masa mendatang.
Merujuk pada apa yang dilakukan sekolah-sekolah Negeri Sakura itu, ada sejumlah smart tips bagi pihak sekolah yang berkomitmen kuat untuk memberdayakan ekstrakurikuler agar membuahkan hasil luar biasa.
Pertama, pihak sekolah mempunyai dana memadai untuk melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler. Jumlah dana itu tentu saja disesuaikan dengan jumlah ekstrakurikuler yang dibuka dan pelatih yang akan didatangkan. Di awal tahun pelajaran penyusunan RAPBS wajib memperhatikan ketersediaan dana ekstrakurikuler.
Kedua, fasilitas dan alat penunjang latihan wajib dicukupi. Jangan sampai terdapat sepuluh siswa mengikuti ekstrakurikuler seni petik gitar, sementara gitar yang tersedia hanya satu atau duah buah. Itu pun sudah rusak.
Ketiga, sejak awal pihak sekolah mencari tahu bakat, minat, dan kemampuan masing-masing siswa. Guru BK bekerjasama dengan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan bisa melakukan berbagai macam cara cerdas untuk mengetahui talenta siswa.
Jika bakat dasar anak didik sudah diketahui, pihak sekolah mengarahkan siswa agar memilih salah satu ekstrakurikuler yang disukai sesuai bakat dan minatnya. Agar fokus, seorang siswa diharapkan hanya mengikuti satu jenis ekstrakurikuler. Pembatasan jumlah siswa dalam sebuah kelompok ekstrakurikuler juga penting agar setiap siswa mendapat perhatian yang cukup dari pelatih. Di samping itu, perlu adanya motivation training di kalangan siswa mengenai kegiatan ekstrakurikuler yang akan diikuti.
Berikutnya, pihak sekolah menyusun kurikulum atau silabus kegiatan ekstrakurikuler agar jelas tujuan, proses, target, dan evaluasinya. Tanpa adanya silabus, kegiatan ekstrakurikuler akan berjalan seadanya. Sangat memungkinkan bagi sebuah sekolah untuk melakukan studi banding ke sekolah-sekolah tersohor yang terbukti mempunyai ekstrakurikuler bagus.
Selanjutnya, perekrutan tenaga pelatih harus benar-benar selektif. Jika menginginkan hasil terbaik, tidak ada istilah pemerataan tugas guru untuk mengelola ekstrakurikuler. Hanya mereka yang benar-benar memiliki latar belakang dan kemampuan di masing-masing bidang yang dapat menjadi pelatih. Atau, pihak sekolah lebih baik mendatangkan pelatih profesional dari luar meski harus membayar lebih. Sementara guru bisa diaktifkan sebagai pengawas latihan.
Keenam, proses yang baik merupakan awal keberhasilan. Siswa berpotensi di bawah asuhan pelatih yang mumpuni akan sangat mudah berhasil jika proses kegiatan ekstrakurikuler berjalan menyenangkan, mengasyikkan, dan mencerdaskan. Dengan demikian, kedisiplinan berlatih wajib dijunjung tinggi.
Ketujuh, adanya kerja sama antarsekolah. Misalnya, untuk mengukur tingkat kemampuan siswa dalam penguasaan debat bahasa Inggris, English Club sebuah sekolah dapat mengundang English Club sekolah lain untuk Uji Lomba Debat atau tim bola voli sekolah A menantang tanding tim bola voli sekolah B. Melalui kegiatan ini, kemampuan siswa akan semakin terasah dan komunikasi antarpelatih juga terjaga.
Langkah terakhir, pihak sekolah wajib memfasilitasi siswanya untuk unjuk gigi di setiap perlombaan, baik di tingkat kabupaten, karesidenan, provinsi maupun nasional. Perkara kalah menang adalah nomor sekian; yang penting siswa mendapat pengalaman dan pembelajaran berharga di kancah pertandingan sehingga ke depan mereka berlatih lebih giat lagi sampai berhasil tampil sebagai juara.

Pemanfaatan TIK sebagai Media Pembelajaran


Saat ini computer bukan lagi merupakan barang mewah, alat ini sudah digunakan diberbagai bidang pekerjaan seperti halnya pada bidang pendidikan. Awalnya computer dimanfaatkan di sekolah sebagai penunjang kelancaran pekerjaan bidang administrasi dengan memanfaatkan software Microsoft word, exel, dan access.
Dengan masuknya materi Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam kurikulum baru, maka peranan computer sebagai komponen utama dalam TIK mempunyai posisi yang sangat penting sebagai salah satu media pembelajaran. TIK bukan merupakan teknologi yang berdiri sendiri, tetapi meruapakan kombinasi dari hardware dan software.
TIK juga dimanfaatkan sebagai penunjang KBM di sekolah, serta sebagai media pembelajaran siswa, tak terkecuali di SMAN Unggul Aceh Selatan. TIK tidak hanya digunakan dalam mata pelajaran TIK itu sendiri namun juga digunakan dalam berbagai mata pelajaran seperti Biologi, Fisika, English, dan lain – lain.
Ada beberapa pemanfaatan pembelajaran TIK diantaranya :
1. Presentasi
Presentasi merupakan cara yang sudah lama digunakan dengan menggunakan OHP atau chart. Namun dengan berkembangnya teknologi, peralatan yang digunakan sekarang adalah sebuah laptop atau computer dan LCD proyektor. Ada beberapa keuntungan jika kita memanfaatkan TIK diantaranya kita bisa menampilkan animasi dan film sehingga tampilannya lebih menarik dan memudahkan siswa untuk menangkap materi yang disampaikan. Software yang paling banyak digunakan adalah Ms. Power Point.
2. Demonstrasi
Demonstrasi biasanya digunakan untuk menampilkan suatu kegiatan di depan kelas, misalnya eksperimen. Kita bisa membuat suatu film tentang cara membuat atau melakukan suatu kegiatan misalnya cara melakukan pengukuran dengan micrometer yang benar.
Cara lain adalah memanfaatkan media internet. Kita bisa menampilkan animasi yang berhubungan dengan materi yang sedang diajarkan. Banyak situs – situs yang menyajikan gambar, materi, atau animasi yang dapat didownload dengan gratis.
3. Virtual Experiment
Maksud dari virtual experiment disini adalah suatu kegiatan laboraturium yang dipindahkan di depan computer. Siswa dapat melakukan eksperimen dengan memanfaatkan software virtual eksperimen. Jadi siswa tidak perlu melakukan eksperimen di labor.
Seperti dalam mata pelajaran Biologi, guru juga memanfaatkan TIK dalam proses KBM. Para guru biasanya menampilkan film documenter mengenai pokok bahasan yang sedang dipelajari. Dalam mata pelajaran Bahasa Inggris, biasanya guru mengasah kemampuan listening namun dipadukan dengan visual melalui computer ( Audio-Visual ). Sedangkan pada mata pelajaran Fisika, biasanya guru menampilkan tata cara pratikum sebelum pratikum dimulai melalui LCD proyektor. Hal tersebut sangat membantu siswa dalam memahami pokok bahasan yang sedang dipelajari.
Selain itu, guru TIK juga memanfaatkan teknologi internet dalam pembelajaran. Biasanya guru mengirimkan tugas, test atau materi melalui internet dan dikirimkan ke email masing – masing. Kemudian tugas atau jawaban test tersebut juga harus dikirimkan balik ke email guru tersebut.
Siswa juga memanfaatkan TIK dalam mengembangkan potensi dan bakat mereka dalam segala bidang. Misalnya, siswa yang aktif menampilkan hasil karyanya di mading sekolah. Mereka biasanya menggunakan Microsoft word dalam mengetik dan menghias karya mereka agar terlihat lebih menarik. Ada pula siswa yang menggemari bidang web design menggunakan Microsoft publisher dalam membuat desain web yang akan digunakan.
TIK juga digunakan pada ruangan multimedia SMAN UNGGUL ASEL. Ruangan ini memang dipersiapkan jika ada tamu dari luar atau dari guru sendiri yang ingin mengadakan seminar atau mengajar menggunakan computer.
Ternyata TIK banyak juga ya manfaatnya, tidak hanya untuk mengetik tapi bisa macam – macam. Untuk itu ayo belajat TIK !!!

Ekskul di sekolahku

Hampir semua sekolah menengah di seluruh wilayah nusantara memiliki kegiatan ekstrakurikuler atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ekskul. Tidak terkecuali di SMAN UNGGUL ACEH SELATAN, sekolah ku. Kegiatan selepas jam pelajaran itu menawarkan sejumlah pelatihan sesuai bakat dan minat siswa, seperti KIR (Kelompok Ilmiah Remaja), English Club dan English area, Sanggar Seni, Mading, Rohis, Pencak Silat Club, dan olahraga misalnya sepak bola, bulu tangkis, bola voli, tenis meja, dan lain – lain.
Ekstrakurikuler biasanya dilaksanakan sekali seminggu pada sore Sabtu atau biasa kami sebut hari pengembangan diri. Ada beberapa yang wajib diikuti siswa, seperti rohis, English area , pencak silatdan selebihnya merupakan pilihan dari siswa. Secara umum ekskul bertujuan untuk mewadahi atau mengembangkan potensi serta bakat siswa – siswi. Namun ada beberapa ekskul yang secara khusus dipersiapkan untuk mengikuti perlombaan atau pagelaran.
Pelatih atau tenaga pengajar tidak hanya berasal dari dewan guru, tetapi sekolah juga mendatangkan pelatih dari luar yang ahli dibidangnya. Potensi kegiatan ekstrakurikuler untuk mencetak generasi bertalenta di bidangnya sangatlah besar. Ini jika ekstrakurikuler ditangani dengan baik dan profesional oleh pihak sekolah. Dengan kata lain, ekstrakurikuler bukan sekadar kegiatan pengisi waktu luang atau rutinitas semata.
Hmm... ekskul menjadi salah satu kegiatan favorit saya di sekolah. Ekskul menambah pengetahuan dan keterampilan saya diluar sains. Walaupun jam pelajaran pagi sudah buat otak sama tubuh saya capek, but saya tetap menjalankan ekskul dengan senang hati. Tiap tahun saya selalu mengambil ekskul yang berbeda. Tujuannya untuk merasakan bermacam – macam bidang ilmu, tidak hanya satu bidang ilmu aja. Ditahun pertama saya sekolah di SMAN UNGGUL ACEH SELATAN, sanggar seni dan english club menjadi pilihan. Mengapa saya pilih sanggar seni khususnya paduan suara, karena tahun pertama saya sudah direkrut buat mengikuti lomba paduan Suara Gita Bahana Nusantara untuk menyanyi di Istana Negara pada 17 Agustus. Namun sayangnya Dewi Fortuna belum berpihak pada saya.
Pada tahun kedua, saya mengambil KIR dan mading sebagai ekskul. Ketua OSIS menunjuk saya sebagai Pimred Mading sekolah. Selama satu tahun masa kerja bakti, telah banyak karya – karya yang masuk ke redaksi. Siswa – siswi yang masuk dalam ekskul mading menjadi memahami sastra dan tahu bagaimana caranya menjadi seorang jurnalis. Mading juga memberikan pengahragaan khusus kepada siswa – siswi yang karyanya dinilai baik oleh redaksi mading. Namun ditahun terakhir, saya tidak mengambil ekskul apa – apa karena lebih memilih untuk fokus mempersiapkan UAN dan SPMB. Namun ekskul tetap berjalan sih tanpa kehadiran saya ( Hahaha narsis banget ya ).
Baru – baru ini, pada tanggal 14 Agustus 2009, sanggar tari SMAN UNGGUL ACEH SELATAN yang bernama " Al Jauhar" ikut serta dalam pagelaran malam kesenian dalam rangka menyambut HUT RI ke - 64 di kota Tapaktuan. SMAN UNGGUL ASEL menampilkan sebuah tarian kreasi baru yaitu ” Seulaweut ”. Tarian ini diikuti sebelas siswi – siswi yang merupakan binaan dari Ekskul sanggar seni khususnya tari. Sanggar tari SMAN UNGGUL juga telah menampilkan kreasi tarinya dihadapan Pimpinan MPR Juli lalu. Hal itu dilaksanakan ketika SMAN UNGGUL mewakili Provinsi Aceh dalam ajang Lomba Cerdas Cermat UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 di Jakarta. Selain itu sanggar seni juga mengajarkan siswa siswi dalam hal membuat kerajinan tangan yang dapat dipasarkan.
Telah banyak manfaat yang dirasakan oleh siswa – siswi SMAN UNGGUL dalam mengikuti Ekskul termasuk saya. Banyak ilmu dan keterampilan lain yang saya dapatkan dari Ekskul. Dan saya juga berharap hal itu dapat diterapkan dalam kehidupan saya di rumah dan di masyarakat.

Jumat, Juni 19, 2009

The Winner

Alhamdulillah...
akhirnya berakhir sudah masa gw duduk di kelas dua
n the first rangking jadi milik gw tentunya
" Jangan hanya puas dengan nilas 80 " setidaknya itu yang dikatakan 'mami' gw alias wali kelas gw
yupz bener bgt tu, dalam menuntup ,ilmu gak da kata puas
so tuntut ilmu sampai ke amerika, trus singgah di cina
key Guys

Minggu, Mei 03, 2009

do ThE BesT To be a WiNner

are sabtu, lomba nyanyi GBN,
Bulatkan suara, keluarkan Vibra, nyanyikan liriknya
bulan depan anak daerah,
jaga wibawa, jadi seorang pemimpin, learn acehnees, france
bulan toejoeh go to jakarta,
hapal uud, tap mpr, nari
ohhhhh, GOD help me
but ...............
do the best !

Kamis, Maret 19, 2009

Jakarta, I'm Coming

senang deh isa menang n go tojakara n ntar ketemu pak SBY.
moga 2 kami semua bisa nunjukin bahwa aceh bisa jadi juara nasional

Rabu, Februari 04, 2009

My favorite

Artist: Josh Groban
Title: You Are Loved (Don’t Give Up)

Don’t give up
It’s just the weight of the world
When you’re heart’s heavy
I, I will lift it for you

Don’t give up
Cuz you want to be heard
If silence keeps you
I, I will break it for you
Everybody wants to be understood
Well I can hear you
Everybody wants to be loved

Don’t give up
Because you are loved

Don’t give up
It’s just the hurt that you hide
When you’re lost inside
I, I’ll be there to find you

Don’t give up
Because you want to burn bright
If darkness blinds you
I, I will shine to guide you
Everybody wants to be understood
Well I can hear you
Everybody wants to be loved

Don’t give up
Because you are loved
You are loved

Aaaah

Don’t give up
It’s just the weight of the world

Don’t give up
Everyone needs to be heard
You are loved

Kamis, Januari 15, 2009

hollyday

hah ni hollyday paling membosankan, gak kemana2
tapi ada yang enak, barangnya besok pagi nyampe n kita akan pesta malamnya
heheheheheheheh