Senin, Agustus 31, 2009

PENDIDIKAN DAN EKONOMI ACEH PASCA 3 TAHUN TSUNAMI

“ Juara III Lomba Penulisan Artikel dalam Rangka 3 Tahun Tsunami Se NAD Tahun 2007 “

Oleh GEMA WAHYUDI

Menyelamatkan Pendidikan Anak – Anak Aceh
KESEDIHAN menyelimuti bangsa Indonesia saat Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara (Nias) diterjang gempa dan tsunami yang menelan ratusan ribu jiwa. Di antara korban meninggal, hilang, atau terselamatkan, 35 persennya adalah anak- anak.
Anak-anak memerlukan perhatian khusus karena mereka belum bisa menyelamatkan diri sendiri dan memerlukan uluran tangan orang dewasa. Anak-anak tidak hanya memerlukan pangan, sandang, dan papan, tetapi juga pendidikan. Ironisnya, kebutuhan pendidikan justru sering terabaikan dan baru terpikirkan setelah kebutuhan lainnya terpenuhi.
Pendidikan konseling
Ada berbagai tipe anak pascagempa, yaitu menjadi yatim piatu karena kedua orangtuanya meninggal, yatim saja karena hanya salah satu orangtuanya hilang. Dan, ada yang masih hidup bersama kedua orangtua mereka, tetapi karena gempa memorakporandakan harta, mereka hidup dalam kesengsaraan dan masa depan yang tidak jelas. Karena ada berbagai tipe anak, maka diperlukan pendekatan beragam.
Pertama, mereka yang menjadi yatim piatu dan usianya masih balita memerlukan perlindungan fisik dari orang yang sudah dewasa agar dapat jasmani dan rohani tumbuh sehat. Secara fisik, mereka terselamatkan dari bencana, tetapi belum tahu apa yang terjadi pada dirinya. Mereka terpisah dari orangtuanya, tetapi belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Anak-anak usia balita memerlukan pendekatan khusus yang dapat dilakukan orangtua berpengalaman, bukan relawan yang masih belia. Kesediaan suami-istri mengangkat mereka sebagai anak akan memberi rasa aman dan nyaman yang lebih abadi dibandingkan dengan menitipkan mereka ke panti asuhan.


Kebutuhan pangan dan sandang di panti asuhan mungkin tercukupi, tetapi secara psikologis, mereka rentan. Suatu saat akan muncul dendam pada diri sendiri setelah mengetahui sejarah hidupnya. Masalahnya, tidak mudah mencari orangtua asuh yang tulus. Hal itu terbukti dengan masih adanya orang yang tega hidup di atas penderitaan sesama dengan memperjualbelikan anak-anak yang terpisah dari orangtua.
Pada beberapa anak, cara pendekatannya berbeda, yaitu melalui pendidikan konseling. Bukan oleh seorang konselor ahli dan kaum profesional, tetapi guru dan sanak kerabat yang sudah dewasa. Karena, tanpa disadari, dalam kehidupan keseharian, mereka telah menjalankan konseling di lingkungan kehidupan Aceh yang religius dan menekankan kepasrahan kepada Allah.
Konseling semacam ini penting karena dalam situasi bergelimang derita tidak ada jalan lain kecuali pendidikan yang membawa kesadaran orang untuk hidup melulu menyandarkan diri pada kasih dan penyelenggaraan ilahi. Pendidikan semacam itu dapat dilakukan oleh siapa saja. Pendidikan konseling dapat meneguhkan semangat hidup anak-anak yang terlepas dari orangtuanya, bahwa kebahagiaan senantiasa hadir dalam penderitaan riil keseharian masyarakat. Aceh tetaplah taman firdaus ( Darussalam ), meski bumi Aceh kini sedang memanggul beban penderitaan teramat berat. Tragedi ini diharapkan dapat menjadi pelajaran bersama dan mengintropeksi diri. Termasuk GAM dan TNI bahwa tidak ada gunanya terus berperang dengan senjata karena akhirnya mereka tidak mampu menyelamatkan dirinya dari gempa dan tsunami. Bagi mereka yang kedua orangtuanya masih selamat, tetapi harta bendanya hancur atau hilang, pendidikan justru perlu difokuskan kepada orangtuanya agar mereka memiliki ketabahan sekaligus kesabaran dalam mendidik anak-anaknya
Menghindari formalisasi
Mengingat kebutuhan mendesak adalah pendidikan yang mampu memberi semangat dan pengharapan anak – anak korban tsunami untuk tetap hidup dalam keadaan yang sedemikian, agaknya kurikulum pendidikan dan proses pengajaran yang formalitas boleh diabaikan . Segala bentuk formalitas , termasuk kurikulum, buku pelajaran, standarisasi dan kualifikasi yang dipersyaratkan dalam pengajaran hendaknya diabaikan dulu. Yang diperlukan lebih dulu adalah rehabilitasi psikologi karena jungkir balik diguncang bencana. Anak – anak Aceh kini memerlukan pendidikan yang mampu memberi semangat dan harapan untuk hidup dialam nyata.
Solidaritas kemanusiaan universal sebagai wujud kepedulian untuk Aceh yang datang dari berbagai penjuru dunia. Semangat ini dapat dilihat sendiri oleh anak-anak Aceh saat mereka menyambut uluran tangan tanpa pamrih dari siapa pun yang berbela rasa kepada mereka. Bukankah ini media pengajaran yang luar biasa dahsyat dalam rangka menyalakan semangat hidup di tengah samudra keterpurukan? Ibaratnya adalah menyalakan secercah cahaya di lorong kegelapan bagi anak- anak di Aceh.
Konseling berbasis penderitaan ini bukan kegiatan untuk meninabobokan anak-anak Aceh, tetapi mengajarkan kepadanya bahwa hidup mesti realistis. Tak perlu tergesa membangun gedung sekolah dan mencetak buku-buku baru-yang rawan korupsi-khusus untuk anak-anak Aceh karena pendidikan mereka dapat diselamatkan dengan menggunakan rumah-rumah penduduk yang masih utuh, sedangkan buku bisa digantikan dengan kekayaan alam dan budaya Aceh.
Tsunami telah menghancurkan pendidikan di Aceh. Bencana tersebut telah menghancurkan dan membunuh ratusan guru dan murid. Sebelum tsunami terjadi konflik di Aceh. Ratusan sekolah terbakar, tetapi sekarang dengan kedamaian dan dan investor luar negeri, anak – anak Aceh mempunyai kesempatan kembali untuk belajar.
Banyak orang mengatakan bahwa pembangunan pendidikan di Aceh membutuhkan dana yang besar. Tetapi sejak 4 tahun yang lalu, Aceh memiliki dana milyaran rupiah untuk membangun pandidikannya. Disamping itu mereka juga melihat bahwa hanya uang yang kita perlukan untuk membangun pendidikan di Aceh. Malaysiaa bisa menjadi contoh bagi Aceh untuk membangun pendidikan. Masyarakat di Malaysia mengatakan bahwa dulu Malaysia harus belajar dari Indonesia tetapi sekarang Indonesia harus belajar dari Malaysia.
Kadang – kadang kita masih berpikir bahwa dengan uang semua masalah akan selesai tetapi tidak akan membuat pendidikan sukses. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan agar pendidikan kita lebih baik. Yang pertama, departemen pendidikan harus tahu apa prioritas untuk Aceh. Yang kedua, pemerintah local adalah orang – orang yang tahu bagaimana membangun pendidikan di Aceh, bukan orang yang selalu korupsi dengan dana.
Yang mereka perlukan sekarang adalah guru yang memiliki kearifan untuk mendidik mereka agar kembali merasa hidup sebagai manusia yang utuh. Mungkin mereka akan ketinggalan dalam pelajaran konvensional, tetapi akan unggul dalam pendidikan psikologi.
Tak ada lagi perang di Aceh. Semuanya telah berakhir damai, sejak MoU Helsiki disepakati, 15 Agustus 2005 lalu. Kini Aceh sedang membangun rumahnya, masyarakatnya, ekonominya, sosial budayanya, jalan-jalannya, akses informasinya, syariatnya dan sederet lainnya yang berarti membuka diri untuk menantang arus globalisasi. Soal membuka diri, sudah saatnya Aceh melakukan itu. Saat konflik masih mendera, Aceh memang luka, pintu ke Aceh ditutup rapat oleh penguasa. Perang menjadi alasan bagi dunia untuk enggan masuk memberikan kontribusinya. Padalah, siapa yang tak mendambakan sebuah kemajuan.
Setelah damai ada, mungkinkah Aceh seperti Singapura, Malaysia atau Cina yang sudah lebih maju dari Indonesia? kita tak perlu lagi berdiam diri, keluarlah untuk melihat dunia dan undanglah tamu untuk membawa dunia ke Aceh. ‘Keluar dari Ghetto’, itulah salah satu poin yang dirilis Aguswandi lewat bukunya. Ghetto adalah istilah yang dipakai untuk menggambarkan suatu area terpisah dimana seseorang atau sekelompok orang mengurung atau dikurung, sehingga terpisah dari kelompoknya. Banyak pengetahuan dan ide – ide baru untuk sebuah tujuan yang diinginkan yaitu Aceh yang maju. Tinggal menghitung hari melihat Aceh yang benar benar baru. Setelah tak ada lagi perang di Bumi Serambi.
Ekonomi Aceh Pasca 3 Tahun Tsunami
Proses rehabilitasi dan rekonstruksi terus berjalan. Perlahan-lahan Aceh mulai bangkit kembali. Namun, proses tersebut masih dirasakan sangat lambat. Ditengah cash in flow yang begitu besar mencapai US$5,8 milyar, pembangunan Aceh masih menghasilkan realisasi fisik yang minim. Membangun sesuatu yang fisik saja masih lambat apalagi untuk human developmentnya. Hasil survey dari World Bank dan Bappenas menyebutkan bahwa tingkat kerusakan yang dialami dalam sektor perekonomian adalah mencapai US $ 1,2 milyar. Hal ini akibat rusaknya sektor yang produktif, kegiatan ekonomi yang menurun sebanyak 5%, bertambahnya 325.000 penduduk miskin, dan 100.000 pengusaha kecil kehilangan usahanya.
Setahun Tsunami
Tak ada yang bisa menduga, termasuk korban tsunami bahwa mereka kini pupus segalanya: keluarga, harta, dan pekerjaan. Dan bahkan jika tidak diselamatkan, mereka juga akan kehilangan sesuatu yang masih tersisa, yaitu masa depannya.Tiga bulan pertama merupakan masa kritis dalam menyelamatkan kehidupan jangka pendek korban namun telah terlalui dengan berbagai suka duka. . Bagaimanapun, kepada berbagai pihak yang telah sigap membantu korban tsunami patut diberikan apresiasi.
Untuk mengembalikan Aceh kembali, diperkirakan mencapai US$ 5,8 milyar dan pada tahun 2005 dengan dana sebesar US$ 4,4 milyar telah dialokasikan untuk proyek-proyek khusus dengan rincian pemerintah (termasuk anggran 2006) sebesar US$ 1,1 milyar, LSM US$ 1,5 milyar, dan donor US$ 1,8 milyar.
Setahun tsunami, tidak dipungkiri bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh kembali sudah mulai berjalan. Hasil laporan setahun BRR menyebutkan berbagai keberhasilan telah dilakukan dalam rehab dan rekons Aceh, diantaranya; pembangunan fisik yang berupa jalan, jembatan, kegiatan ekonomi berskala kecil, pembangunan sarana dan prasarana, dll. Namun, Daya serap untuk tahun 2005 hanya sebesar 17,61% (US$ 775 juta dari US$ 4,4, milyar). Realisasi daya serap yang sangat minim ini membuktikan bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pasca setahun tsunami masih sangat minim dan lambat.
Jika kita melihat kondisi riil di lapangan, masih begitu banyak pengungsi yang tinggal di tenda pada akhir tahun 2005 yang lalu, masyarakat yang sulit mencari mata pencaharian, sulitnya mendapatkan akses modal usaha, pelaksanaan pelatihan usaha yang tidak tepat sasaran, dan sebagainya. . Kondisi ini sangat memprihatinkan dan masih sedikit sekali memberikan perkembangan rehab dan rekons Aceh.
Dua Tahun Dan Tiga Tahun Tsunami
Dimana kita setelah 2 tahun tsunami? Itu mungkin yang akan menjadi pertanyaan didalam diri kita masing-masing. Dari hasil berbagai diskusi, pengamatan dan opini pakar, upaya perbaikan ekonomi masyarakat dirasakan masih belum optimal. Indikasi ini dilihat dari masih tingginya angka kemiskinan (43,67%) atau 1.760.764 jiwa, pengangguran terbuka (46,88%) atau 1.255.388 jiwa. Langkah-langkah perbaikan ekonomi yang strategis, sistematis dan sinergis pun masih belum kelihatan. Hal ini juga dibuktikan dengan minimnya daya serap anggaran per November 2006 yang hanya sebesar 26,84%.
Dana rehab dan rekons Aceh pada tahun 2006 mulai bertambah menjadi US$ 5,8 milyar, yang terdiri dari pemerintah (US$ 2 milyar), LSM (US$ 1,6 milyar), dan Donor (US$ 2,2 milyar). Jika kita membandingkan dana yang dibutuhkan dengan dana yang tersedia maka kebutuhan dana sudah terpenuhi. Sehingga tidak ada lagi alasan bagi BRR untuk tidak mempercepat proses rekonstruksi Aceh. Terlebih lagi ada dana komitmen dari donor, NGO dan pemerintah sebesar US$ 1,9 milyar untuk membuat Aceh kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya dan ini menjadi moment yang paling berharga jika bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Dana begitu melimpah diberikan untuk Aceh, sekarang tinggal bagaimana mengatur dana tersebut. Apabila BRR dan Pemerintah mempunyai program dengan skala prioritas dan bisa menuntaskan pelaksanaan secara final per sektor per program maka bisa dipastikan bahwa proses rekonstruksi dan pembangunan Aceh bisa berjalan dengan cepat. Semua tergantung dari niat dan nawaytu yang ada. Selama ini, kesan BRR sebagai lembaga yang bergerak di semua bidang begitu kentara. Tidak mempunyai skala prioritas, itu yang tergambar dari implementasi program selama ini.
Dalam hirarkhi kebutuhan Maslow, seharusnya kebutuhan dasar harus dipenuhi terlebih dahulu. Dalam situasi pasca tsunami 26 Desember 2004, yang mejadi kebutuhan dasar masyarakat adalah perumahan dan ekonominya. Bagaimana pertumbuhan ekonomi Aceh bisa meningkat jika sektor produksi melalui sektor riel minim? Bagaimana sektor riel bisa berjalan apabila akses modal sangat kurang, terlebih lagi dana yang mengendap di bank mencapai Rp. 5,1 milyar? Dan bagaimana masyarakat bisa mengakses modal usaha apabila rumah belum ada? Dan mengapa sampai dengan tahun ini BRR hanya mampu menyelesaikan 40.085 rumah dari target 78.000 rumah di tahun 2006? Belum lagi jika kita melihat rumah yang dibangun asal jadi, dinding retak, miring, atap bocor, tidak ada fasilitas MCK, kuda-kuda yang rapuh, dsb.
Mengapa BRR dan pemerintah belum lagi bisa belajar dari dari dua tahun yang lalu ? Sudah tiga tahun tsunami berlalu tapi masih banyak masyarakat yang belum mempunyai mata pencaharian sehingga sangat wajar bila angka kemiskinan di daerah ini meningkat dari 27% pada tahun 2004 menjadi 43,67% pada tahun 2005 ditengah uang yang begitu besar mengalir di Aceh sebesar Rp. 7,1 Trilyun? Parahnya lagi, Rp. 1,7 trilyun ditanggung oleh rumah tangga akibat inflasi yang sangat tinggi. Kita berharap Aceh bisa menjadi lebih baik, namun bagaimana bisa menjadikan Aceh lebih baik jika pemerintah dan BRR belum menunjukkan niat seperti itu? Semoga di tahun 2007 ini, niat baik para pengambil kebijakan bisa terlaksana dan proses pembangunan Aceh kembali bisa lebih cepat. Semoga...

Tidak ada komentar: